Belajar Menulis di Kelas Menulis Ublik

Setelah sekian banyak menulis di blog dan artikel SEO, sampailah aku pada titik, tulisanku kok seperti ini aja yah? Para pembaca paham ga ya maksud tulisanku? Dan berbagai pikiran yang pada akhirnya membuatku berhenti sejenak dari kegiatan menulis.

Di masa perhentian ini, aku coba mencari kegiatan lain yang dapat membuatku semangat menulis lagi.

Pucuk dicinta ulam tiba

Aku melihat unggahan Kak Nodi di Instagram yang mengabarkan bahwa ia akan menjadi salah satu mentor dari kelas menulis yang diadakan oleh Ublik.id. “Wah ini kesempatan bagus! Aku bakal belajar dari sang ahli”, pikirku waktu itu.

Kak Nodi sendiri merupakan seorang narablog yang telah memenangkan berbagai kompetisi blog, hingga kini terdapat 34 penghargaan yang berhasil ia raih dari menulis blog. Selain itu, ia juga mengadakan kompetisi blog nya sendiri, yaitu Lomba Blog Nodi yang bertemakan Blogger di Era Digital. Sayangnya waktu itu, aku belum beruntung memenangkannya, namun komentar yang diberikan oleh Pak Khrisna Phabicara sebagai salah satu juri membuatku sadar, bahwa teknik penulisanku haruslah ditingkatkan kembali. Terutama dari segi penyusunan kalimat, meskipun sudah bagus namun masih tampak bolong-bolongnya. Begitupula dalam penggunaan partikel ‘pun’ yang masih harus aku perbaiki lagi.

Baca: Blogger Itu Berbagi Di Era Digital

Kegagalan yang aku terima dari lomba blog ini membuatku yakin untuk terus memperbaiki tulisanku agar dapat ditulis dan disampaikan dengan lebih baik. Maka, tanpa ragu aku langsung mendaftarkan diri untuk mengikuti kelas menulis Ublik.id 2.0.

Walaupun pendaftarannya tidak gratis, namun uang Rp.100.000 yang dikeluarkan tentu tidak seberapa untuk mendapatkan ilmu kepenulisan dari 4 mentor dan berbagai topik penulisan, ada juga bonus buku yang merupakan kumpulan esai finalis lomba menulis Inspirasi untuk Negeri yang diterbitkan oleh tim literasi Ublik. Disana ada juga Kak Nodi yang menjadi salah satu pemenangnya lho.

Buku Inspirasi untuk Indonesia

Maka bismillah, akupun mendaftarkan diri di kelas menulis ini.

Apa yang dipelajari di Kelas Menulis Ublik?

Ketika grup sudah dibuat dan mulai perkenalan, ternyata lumayan banyak peserta yang tertarik untuk belajar di kelas menulis ini. Profil mengenai Ublik pun disampaikan di grup ini yang ternyata, walaupun masih muda, Ublik sudah menorehkan berbagai prestasi, salah satunya sebagai Site of The Year tahun 2017 di Indonesia Website Award. Selain itu, banyak event yang diadakan oleh Ublik dalam memfasilitasi anak muda dalam dunia pendidikan.

Setelah perkenalan, kelas pun langsung dimulai dengan materi pertama yaitu Menulis Esai di Media Digital yang disampaikan oleh mentor Esty Dyah Imaniar. Selama sesi ini, mentor menjelaskan perbedaan antara opini dan esai, penjelasan mengenai berbagai media yang mempublikasikan opini dan esai, hingga tips dalam membuat tulisan yang berbeda dari kebanyakan orang. Salah satu saran yang diberikan adalah dengan mengambil sudut pandang personal dalam menuliskan ide kita.

Sesi kelas selama 2 jam diakhiri dengan pemberian tugas, yaitu mengirimkan tulisan ke media digital terkurasi dan dimuat. Waktu itu pilihan yang diberikan adalah antara Voxpop.id atau Mojok.co. Tulisan terbaik yang dimuat oleh salah satu media tersebut nantinya akan mendapatkan bingkisan buku dari sang mentor.

Tantangan pertama ini aku sambut dengan baik, aku pun mencoba melihat tulisan yang ada di Voxpop.id dan Mojok.co. Ternyata masing-masing media memiliki gaya tulisannya sendiri, Voxpop.id yang klise sedangkan Mojok.co yang frontal. Akupun mencoba menulis esai yang pada akhirnya tidak berhasil aku kumpulkan karena terbatasnya waktu dan ide.

Di minggu berikutnya, berlanjutlah kelas ini dengan materi kedua, yaitu Menulis Skenario yang disampaikan oleh mentor Farah Frastia, seorang penulis skenario FTV di SCTV. Jujur, awalnya aku tidak begitu tertarik dengan materi ini karena memang tidak begitu senang menonton FTV ataupun film lainnya. Namun setelah menyimak jawaban dari diskusi yang disampaikan, ternyata cukup menarik juga pembahasan mengenai penulisan skenario ini. Terutama ketika kita dapat menentukan tokoh dan alur yang sesuai dengan imajinasi kita.

Satu per satu materi telah diberikan pada tiap minggunya, akhirnya tibalah waktu yang ditunggu-tunggu yaitu sesi kelasnya Kak Nodi! Dengan materinya, Resep Meracik Kata, Kak Nodi menjelaskan secara lengkap berbagai hal yang harus diperhatikan ketika ingin menulis. Dalam hal ini, menulis apapun, baik itu blog, laporan, esai, bahkan caption untuk medsos. Hal pertama yang dibahas adalah tentang persiapan menulis, lalu hasil yang ingin didapatkan dari menulis dan berbagai tips yang bisa digunakan dalam menulis paragraf demi paragraf. Tips yang diberikan pun beserta contoh dari masing-masing tulisan Kak Nodi yang ada di blog.

Wah, semakin semangat deh aku menyimak materi dan penjelasan yang diberikan walaupun waktu sudah menjelang berbuka. Selain tips dan berbagai persiapan yang harus dilakukan sebelum menulis, hal lain yang dibahas adalah perihal kesalahan yang seringkali ditemukan dalam menulis, seperti penggunaan kata depan “di”, “pun” hingga penggunaan kata yang kadang dikira benar padahal hanya pasaran. Mungkin untuk tips menulis lebih rinci dari Kak Nodi akan aku bahas lebih lengkap di tulisan lainnya ya. Ini salah satu bagian yang penting bagi aku, karena seringnya partikel -pun yang digunakan. Ternyata ada beberapa yang keliru juga hehe

Sumber: Resep Meracik Kata oleh Adhi Nugroho

Usai sesi dari Kak Nodi, tak terasa materi terakhir akhirnya diberikan. Khusus materi terakhir, karena tema nya adalah How to Write A Book, maka durasi tugas yang diberikan pun lebih lama. Untuk materi ini, narasumber yang menyampaikan adalah Kak Restia Ningrum. Beliau adalah pemimpin redaksi Ublik yang telah menerbitkan beberapa buku, di antaranya adalah, Being Less Sensitive Person, Kerja Produktif bukan Sibuk Kerja, dan menjadi co-writer pada berbagai judul buku lainnya. Keren banget sih ini XD

Sayangnya, menurut aku sendiri materi ini sebenarnya dibutuhkan workshop karena pembahasannya sebenarnya panjang sekali, namun karena terbatasnya sarana dan waktu maka Kak Restia hanya memberikan garis besarnya saja dalam menulis buku, yaitu:

  1. Menentukan tema apa yang akan ditulis (entah itu fiksi atau nonfiksi)
  2. Kumpulkan informasi yang mendukung tema.
  3. Buat outline / poin-poin apa saja yang akan ditulis
  4. Mulai menulis sesuai outline. (Proses yang paling lama karena banyaknya tantangan)
  5. Begitu selesai no 4.), diamkan dulu beberapa hari tulisan kita. Setelah itu baca ulang, self editing, baru kirimkan ke penerbit yang cocok.

Terlihatnya mungkin mudah, namun aku yakin dalam prakteknya pasti membutuhkan waktu dan usaha yang sangat banyak. Terlebih lagi jika niat dan semangat dalam menulis mulai redup. Hehe. Kapan ya bisa menerbitkan buku sendiri? ^^

Jadi, bagaimana Kelas Menulis Ublik?

Alhamdulillah, keempat materi di kelas menulis pun telah tersampaikan dengan baik. Maka, jika nanti ada kelas menulis Ublik 3.0, mungkin ada beberapa hal yang bisa menjadi pertimbangan tim redaksi dalam pelaksanaannya agar lebih baik lagi.

Seperti tema kepenulisan yang akan dipelajari, walaupun bagi beberapa orang mungkin lebih menarik untuk mempelajari berbagai hal sekaligus, namun bagi aku sendiri, lebih menyenangkan jika belajar sesuatu yang disukai saja. Untuk poin ini, aku lebih setuju jika kelas menulis Ublik fokus kepada satu bagian kepenulisan saja dari 4 materi kepenulisan diatas. Harapannya dengan memfokuskan satu bagian saja, kelas menulis pun akan lebih optimal, bisa lebih intensif dan efektif dalam penyampaian materi dan pelaksanaan tugasnya.

Selain fokus pada satu tema kepenulisan, satu hal yang mungkin bisa jadi pertimbangan untuk kelas menulis Ublik berikutnya adalah adanya indikator. Indikator disini maksudnya adalah dalam pelaksanaan tugas, judulnya kan kelas, jadi bayangannya nanti akan ada tugas dan indikator dalam pelaksanaannya sehingga siapa yang mengerjakan dan tidak akan terlihat ketika pembagian sertifikat di akhir masa kelas. Biasanya jika aku mengikuti kelas online maka teknisnya akan seperti itu, makanya ketika diberikan tugas pada setiap akhir materi, aku kira akan ada konsekuensi yang diberikan jika tidak dikerjakan. Namun ternyata tidak ada, jadi ya mungkin dari hal ini jadinya aku maju mundur ketika mengerjakannya. Wkwk. Poin inipun sebenarnya mungkin dapat terealisasi jika hanya satu materi saja, namun mungkin karena ada 4 materi dengan narasumber yang berbeda inilah mengapa kondisinya seperti itu.

Jadi, bagi aku sendiri, menyarankan untuk mengikuti kelas menulis dari Ublik ini, selain karena platform Ublik yang mengedapankan pendidikan, materi yang diberikan oleh narasumber pun ‘daging’ banget karena sesuai dengan spesialisasinya masing-masing. Namun, jika kedua poin saranku di atas bisa dipertimbangkan untuk kelas ke depannya. Alangkah lebih di sarankan lagi untuk mengikutinya hehe

Ublik Cari Penulis

Nah, di sela-sela mengikuti kelas menulis, tim redaksi Ublik pun memberi kabar segar berupa rekrutmen penulis baru untuk website nya Ublik. Wah, kapan lagi kan merealisasikan apa yang dipelajari secara langsung di platform publik? Maka dari itu, aku pun mencoba mendaftarkan diri, berbekal pengalaman menulis artikel SEO untuk perusahaan dan tulisan yang ada di blog, bismillah, daftarlah diriku untuk menjadi kandidat penulis Ublik.

Alhamdulillah, ketika pengumuman, namaku ternyata tertulis sebagai kandidat yang diterima untuk menjadi penulis artikel Ublik. :”) Diterimanya aku menjadi penulis freelance ini mungkin juga untuk menjawab keresahanku saat harus membagi waktu bersama Tizam dengan menulis 2 artikel SEO setiap hari. Sehingga, dengan diterimanya aku menjadi penulis di Ublik tidak mengganggu waktuku bersama Tizam karena waktu kerja yang fleksibel. Alhamdulillah ‘ala kulli hal.

Selain aku, terdapat beberapa orang pula yang lolos menjadi penulis Ublik dan setelah melihat masing-masing tulisannya pun, tidak salah Ublik menerima mereka. 😀 Tulisan yang ada di situs Ublik pun memiliki berbagai tema yang harapannya dapat “Menebar Inspirasi dan Merawat Optimisme Anak Muda Indonesia”, maka tak heran jika tulisan yang tercantum pun kebanyakan berisi motivasi dan inspirasi bagi pembacanya. Untuk tulisan pertamaku di Ublik pun telah terbit, bisa dibaca disini:

Baca: Mengapa Harus Belajar Parenting Bahkan Sebelum Menikah?

Begitulah ulasanku mengenai kelas menulis Ublik yang bermula dari niat untuk menambah ilmu, alhamdulillah Allah mudahkan dengan memberiku kesempatan untuk menebar manfaat melalui tulisan di Ublik insyaAllah. Everything that’s meant to be it will be~

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja