Catatan Akhir Tahun 2017

Catatan Akhir Tahun 2017

Tahun 2017 menjadi momen pertama dan terakhir dalam hidupku yang sebelumnya tak pernah ku bayangkan. Sebuah catatan yang membuatku tersadar bahwa, “everything that’s meant to be it will be”

Awal tahun menjadi sebuah pembuka akan masa skripsiku di tahun sebelumnya, setelah 5 bulan mengerjakan skripsi, alhamdulillah dengan izin Allah, 30 Januari 2017, aku mempresentasikan skripsiku di hadapan para penguji dengan hasil yang memuaskan. Sebuah pembuka awal tahun yang berkesan mengingat masa kuliah yang telah dijalani dengan baik selama hampir 3.5 tahun. Untuk tips dan trick mengerjakan skripsi, bisa mampir ke serial Menjalani Skripsi . 

Lalu, selang sebulan setelah menyelesaikan skripsi dan membereskan segala administrasi untuk wisuda, maka pada bulan Maret, tepatnya tanggal 15 – 24 Maret 2017, Allah mengizinkan langkah kaki ini untuk menapaki negeri yang selama ini diimpikan, yaitu Korea Selatan bersama teman seperjuangan Syifa. Alhamdulillah, Syukuran ke Korea menjadi sebuah cerita yang tidak terlupakan dan menjadi sebuah pengalaman untuk berbagi. Selama di Korsel, tentu tidak lupa perjuangan dalam mencari lokasi penginapan dan tour yang semuanya dilakukan secara pribadi. Well, it was just a great moment to experienced! Semua kisahnya telah diceritakan secara lengkap perharinya dalam serial Syukuran ke Korea. 

Setelah refreshing yang cukup dengan getaway ke Korea selama 10 hari, kuputuskan untuk kembali mewujudkan impian yang sempat tertunda, yaitu kembali menghafal ayat suci Al Quran yang mungkin telah lama terkubur dalam ingatan :'( Bismillah, pada tanggal 22 April 2017 kuputuskan untuk kembali menghafal dengan mereka yang sama-sama memiliki ‘azzam ini, dimana kami dipertemukan di Pesantren Putri Aisyah binti Abu Bakar yang berada di bawah naungan Yayasan Ibu Harapan. Di pesantren ini, begitu banyak memori dan pelajaran yang bisa diambil dari mereka yang ada disini, baik dari musyrifah nya sendiri, santrinya, bahkan sang pembina pesantren ini sendiri, Umi Maiyah yang masyaAllah anak-anaknya memiliki semangat yang besar dalam menghafal Al Quran. Disini pula aku bertemu kembali dengan teman lamaku, Dina yang entah sejak kapan kami terakhir bertemu, dari sosoknya inilah aku mengerti bahwa yang namanya menghafal Al Quran bukan hanya proses sekali duduk namun proses seumur hidup.

2 bulan berada di Pesantren membuatku merasa nyaman hingga bulan Juni di 10 hari pertama puasa, akupun mengikuti Program Tahfidz Ramadhan dimana disana aku merasakan betapa intens nya menghafal dalam keadaan berpuasa. Di momen ini pula aku bertemu dengan berbagai orang yang memiliki latar belakang berbeda, baik usia maupun pendidikan yang mereka semua semangat dalam berinteraksi dengan Al Quran. MasyaAllah, begitu tentramnya saat itu.

Usai dari pesantren tahfidz, akupun mempersiapkan diri untuk kembali ke kampung halaman dan merayakan lebaran disana. Tak disangka lebaran kali ini merupakan yang terakhir kalinya kita formasi lengkap, karena adik pertamaku tahun ini akan melanjutkan pendidikan di Madinah yang entah nanti ia akan merayakan Idul Fitri bersama lagi atau tidak ๐Ÿ™ Alhamdulillah, 25 Juni 2017 kami merayakan lebaran Idul Fitri dengan formasi lengkap. ๐Ÿ™‚

Selama di kampung halaman akupun mulai mengajukan lamaranku ke sebuah sekolah di Mentok yang ternyata alhamdulillah aku diterima dan mendapatkan hadiah ulangtahun sebuah penandatanganan kontrak kerja. Yap, pada tanggal 10 Juli 2017, aku diterima menjadi guru bahasa Inggris di SMPIT Bina Insan Cendikia Mentok. Sebuah mimpi yang alhamdulillah bisa diwujudkan pada tahun ini.

Berlanjut masih di bulan ini, karena ingin melanjutkan studiku ke jenjang yang lebih tinggi, maka aku memutuskan untuk mengambil tes IELTS pada tanggal 20 Juli 2017 dengan segala persiapan yang kulakukan sendiri. Alhamdulillah hasil yang diterima sesuai dengan yang diharapkan. Tips belajar IELTS tanpa kursus bisa dibaca di post berikut.

Lalu, aku wisuda pada tanggal 22 Juli 2017, dimana merupakan hari kami semua yang sebelumnya berpisah, kembali berkumpul di hari ini. Rasa bahagia, suka cita dan lega dirasakan pada hari ini. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, akhirnya bisa menyelesaikan pendidikan S1 dengan tepat. Sedih juga sih karena kami para bachelors harus bersiap ke fase selanjutnya yang merupakan realita hidup yang sebenarnya. hoho

Setelah wisuda, tepatnya tanggal 24 Juli 2017 akupun kembali ke kampung halaman dan mengabdikan diriku untuk mengajar. Perjalanan mengajar selama 1 jam murni perjalanan (bukan karena macet ataupun gerbang tol) dan melewati hutan dan jalan yang tiada ujung (lebay) telah membawaku mengerti betapa tidak mudahnya memberi manfaat itu, terutama jika memang hal tersebut sudah kita pilih ingin kemana. Maka perjalanan 2 jam bolak balik Jebus-Mentok 2 kali dalam seminggu telah membuatku kuat untuk mengarungi jalanan di Bangka yang pastinya sungguh berbeda dengan di ibukota. Hehe

Tak terasa, selama sebulan aku melakukan rutinitas tersebut, pada tanggal 21-25 Agustus 2017 tibalah sebuah angin segar dimana teman lamaku yang sebelumnya pernah berjanji untuk mengunjungiku datang ke Bangka, namun ternyata sebelum aku persiapkan kehadirannya, teman seperjuangan Syifa hadir tanpa disangka-sangka seolah memberi kejutan bersama Mutsla ke Bangka! Alhamdulillah, Seoul Sisters pun berkumpul! Sejak terakhir kali kita bersama saat di Seoul. Besoknya, rombongan teman lamaku Alfina dan sejawatnya Sa(rah)yur pun datang melengkapi rombongan yang diberi nama #escapebangka ini. Selang berapa hari, teman yang terakhir kali aku bertemu saat SMP pun ikut menyusul yaitu Aini yang turut #escapebangka. Alhamdulillah ‘ala kulli hal semuanya menjadi pelipur lara di saat rutinitasku mulai menjenuhkan. Cerita mereka di Bangka bisa dinikmati di tumblr nya Alfina disini.

Puas dengan momen bersama teman-teman di tempatku, tiba-tiba sebuah kabar mendadak datang kepadaku, sebuah berita yang tak kusangka akan terjadi secepat ini. Iyap, tepatnya setelah kehadiran teman-temanku di Bangka, kini teman yang akan menjadi teman hidupku pun hadir dan memberi kabar untukku.

Yap, dengan waktu 2 minggu persiapan, alhamdulillah ‘ala kulli hal, Married by Time menjadi sebuah kenyataan yang harus aku terima. Aku memutuskan di tahun ini aku menikah dengan lelaki yang selama ini menjadi temanku. Alhamdulillah, pada tanggal 10 September 2017 menjadi hari bahagia kami.

Menikah dan melanjutkan hidup di Bangka membuatku dan suami harus menyesuaikan kembali keadaan yang ada. Tinggal di sebuah rumah yang terpisah dengan orangtua membuat kami harus mengurus segala hal dengan mandiri. Bismillah, the real life of marriage starts here.

Namun hikmah dari menikah ini adalah jarak yang sebelumnya menjadi masalah bagiku serta kekhawatiran orangtua terhadapku kini teratasi dengan kehadirannya. Tinggal di tempat yang tidak jauh dari sekolah dan dapat menginap membuat diri ini bahagia plus terharu karena Allah udah baik banget memberikan jalan ini untukku. :’)

Di bulan Oktober tepatnya tanggal 15 Oktober 2017 sebuah kabar bahagia datang lagi kepadaku, alhamdulillah! Zidni akhirnya berangkat ke Madinah! Setelah beberapa kali ditunda dan tidak mendapat kabar yang pasti, akhirnya iapun bertolak ke Madinah dan mulai kuliah disana.

Kabar gembira dari Zidni pun bertambah dengan kabar gembira yang diberikan oleh makhluk kecil yang kini berada di dalam perutku. Alhamdulillah ‘ala kulli hal, dengan segala ikhtiar, pada tanggal 13 November 2017, dua garis menunjukkan hasil yang kini akan merubah statusku. Alhamdulillah, amanah ini dititipkan kepada kami. Mohon doanya agar ia senantiasa sehat dan terjaga sampai saatnya. ๐Ÿ™‚

Terakhir, di bulan Desember ini alhamdulillah tugas sebagai guru telah usai pada semester ini dan akan berlanjut pada semester berikutnya, lalu sebuah liburan singkat kami ke ibukota untuk mempersiapkan segala keperluan kami dalam melanjutkan studi. InsyaAllah jika Ia berkehendak, kami akan melanjutkan studi sesuai yang kami harapkan. Ditambah ujian bagi kami yang terpisah untuk sementara karena persiapan tersebut. Alhamdulillah, segala hal memang sudah ditentukan. ๐Ÿ™‚

Kebahagiaan yang berturut-turut dirasakan setimpal dengan berbagai usaha yang telah kami lakukan, yang pastinya tidak akan terwujud tanpa seizinnya. Alhamdulillah, sungguh baik Allah yang telah mentakdirkan hambaNya sesuai dengan kehendak dan waktu yang telah ia tentukan. Sehingga tidak ada lagi penyesalan kenapa sekarang? Andai saja… atau berbagai hal lainnya yang meragukan ketetapannya ini. Karena sesungguhnya ketepatan waktuNya lah yang terbaik.

Everything that’s meant to be it will be~
 
 
 

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: