“Aku sih bakal homeschooling” ucapku saat itu yang meyakini bahwa Tizam akan menjalani homeschooling dalam pendidikan awalnya. 

PROLOG

Jawaban yang aku ucapkan dengan yakin sebelum mengetahui bahwa akan ada seorang bayi yang lahir setahun kemudian. Maka saat mengingat kembali momen tersebut, dengan segera beristighfar memohon ampun atas kesombongan diri. Bahwasanya saat itu yakin karena memang sedang fokus dan menikmati momen bersama Tizam dan belum terbayangkan akan hadirnya anggota baru dalam keluarga di waktu dekat.

Qodarullah wa maa sya a fa’ala..
“Ini sudah takdir Allah dan apa yang dikehendaki-Nya pasti akan dilaksanakan-Nya.”

Maka saat kelahiran Tiyaz, aku yakini bahwa idealisme yang aku miliki saat itu hendaknya aku ubah. Menyesuaikan dengan kondisi yang ada dan mulai mencari ‘makna’ dari episode kehidupan ‘ibu beranak dua’ ini. Karena sebelumnya aku begitu menikmati momen bermain dan belajar bersama Tizam, menemukan pola dan rutinitas yang telah ia lakukan dengan baik. Namun, ketika Allah izinkan adiknya untuk lahir, semua hal berubah. Mulai dari penyesuaian kembali, adaptasi menjadi ibu baru lagi dan terlebih bagi Tizam sebagai seorang kakak.

Awalnya aku merasa terbantu dengan hadirnya helper dan karakter Tiyaz yang mudah untuk dikondisikan. Namun seiring bertambahnya usia, aku sadari bahwa peranku saat ini bukan hanya menumbuhkan fitrah Tizam namun juga Tiyaz. Jangan sampai aku egois menuai apa yang selama ini aku tanamkan kepada Tizam, hingga lupa untuk menumbuhkan apa yang ada pada diri Tiyaz.

Karena tentu,

“Allah memampukan mereka yang terpilih, bukan memilih mereka yang mampu.” – Ust. Harry Santosa 

KEHADIRAN ADIK

Sejak Tiyaz memasuki usia 1 tahunlah, aku sadari bahwa aku butuh membuat ruang untuk Tiyaz yang hanya ada dia di dalamnya. Karena selama ini, Tiyaz selalu mengalah dengan alasan egosentris yang hadir pada Tizam saat itu. Menemaninya lebih lama dibanding dengan Tiyaz karena merasa Tiyaz saat itu mudah untuk dikondisikan. Namun, momen tersebut membuat Tiyaz yang bertumbuh merasa ada ruang yang belum terpenuhi. Kasih sayang dari Ibun yang selama ini selalu terbagi. Padahal, bukankah di fase inilah ibu yang harusnya menjadi tokoh utama baginya?

Di momen itulah aku menyadari, bahwa ini salah dan momen ini tidak akan terulang. Idealisme ini harus diturunkan dan prinsip awalku yang ingin memegang peran pendidik utama ini hendaklah disesuaikan. Karena aku yakin bahwa sekolah hanyalah ‘fasilitas’ dalam mendukung Home Education, bukan untuk menggantikannya. Adapun Homeschooling merupakan tempatnya saja, karena Home Education bisa dimana saja.

Saat itulah aku coba bicarakan ke suami dan meyakinkan diri, bahwa pasti akan ada sekolah yang dapat membantuku dalam menjalani peran pendidikan ini. Tidak perlu yang sempurna dan fitrah based jika memang belum mampu, namun yang bersedia untuk belajar bersama dan terbuka terhadap proses pendidikan anak ini.

PENCARIAN SEKOLAH

Alhamdulillah, meskipun singkat, biidznillah dipertemukan dengan sekolah pilihan dekat rumah. Hanya 5 menit ke sekolah, sehingga tidak perlu memaksa atau meminta anak untuk bersiap-siap dari awal atau bahkan kecewa karena terlambat dengan jarak yang jauh. Sekolah yang tentu jauh dari kata fitrah based namun ketika aku tanyakan landasan dan proses pengajarannya, insyaAllah based on fitrah. Tidak memaksa, fokus kepada anak, memberikan ruang bagi anak untuk berkreasi dan menghargai potensi yang dimiliki.

Maka saat menemukan sekolah tersebut, aku berdoa kepada Allah dan memohon petunjukNya. Apakah ini jalan yang tepat? Apakah tidak apa-apa menitipkan anak yang selama ini di rumah keluar dari tempat nyamannya? Apakah ini merupakan jawaban dari kegelisahanku selama ini?

Semua pertanyaan tersebut aku tanyakan padaNya, hingga akhirnya yakin untuk mendaftar dan membayar biaya pendidikannya. Ketika hal tersebut dilakukan, aku merasa lega, sekaligus khawatir menantikan hari Tizam bersekolah itu datang. :’))

KONEKSI KEMBALI

Ketika orang tua lain mungkin bersuka cita di hari pertama anaknya sekolah, saat hari itu datang, aku merasa gugup dan ga berani menunjukkan bahwa Tizam akhirnya sekolah. Gagal menjalani homeschooling yang selama ini aku sampaikan dan mengafirmasi diri bahwa keputusan ini bukanlah ambisi dan pikiran sehari. Namun dari berbagai pertimbangan dan diskusi yang dilakukan bersama suami sejak jauh-jauh hari. Oleh karena itu, ketika hari tersebut datang, aku mencoba untuk meyakinkan diri bahwa Tizam sedang ‘belajar di luar rumah’ untuk membantu Ibun menyiapkan mental dan diri menyambutnya kembali di rumah saat pulang.

Karena waktu 2.5 jam Tizam bersekolah, cukup memberikan energi yang besar untukku dalam mengkoneksikan kembali kepada Tiyaz. Setelah mengantar Tizam ke sekolah, aku langsung menghampiri Tiyaz dan membersamainya. Ketika biasanya saat bermain bersama Tizam, jam setengah 9 dia tertidur di stroller, maka ketika Tizam sekolah, aku dapat membersamainya dengan bermain dan menyusuinya hingga tertidur. Perasaan yang mungkin sederhana bagi ibu lain, namun saat peralihan tersebut, aku merasa begitu bersyukur karena akhirnya bisa fokus membersamai Tiyaz.

Selain itu, hal yang dirasakan adalah ketika Tizam sekolah, selain aku bisa lebih fokus membersamai Tiyaz, ketika Tiyaz tidurpun aku dapat melakukan hal lain tanpa distraksi. Seperti mencicil tulisan, merencanakan sesuatu dan hal lainnya dengan fokus yang optimal. Alhamdulillah, dengan adanya ruang tersendiri bagi, aku, Tizam dan Tiyaz, kami semua dapat merasa ‘penuh’ dari durasi yang tersedia. Maka saat Tizam pulangpun, Ibun dapat lebih siap menyambutnya pulang dan mengajaknya beraktifitas kembali dan Tizam pun merasa terkoneksi kembali karena sebelumnya menjalani pembelajaran di luar rumah. Alhamdulillah ‘ala kulli hal. 

SEBULAN SEKOLAH

Lalu apa yang dirasakan selama Tizam satu bulan bersekolah?

Sebelumnya perasaan bersalah dan berdosa menghampiri karena merasa belum mampu membersamainya secara menyeluruh dalam pendidikan awalnya, namun ketika pelan-pelan mencoba menjalani, mengevaluasi apa yang telah Tizam lalui dan rutinitas baru yang ia jalani. Biidznillah, selama satu bulan sekolah ini terdapat begitu banyak insight yang aku dapatkan dari Tizam.

Mulai dari antusiasnya untuk bersekolah dan menyambut hari. Meskipun sekolahnya hanya 3 hari dalam satu pekan, dari hari Senin, Rabu, Jum’at, alhamdulillah 3 hari tersebut senantiasa dinantikan. Mulai dari sounding setiap malam kalo besok akan bersekolah, kemudian disambut dengan ceria dan semangat untuk siap sedia berangkat ke sekolah. Tak lupa request bekal yang ingin ia makan sebelumnya. Alhamdulillah, rutinitas baru ini membuat pola baru untuk Tizam dan menjadikannya semangat untuk menjalani hari.

Ada beberapa hari ia tidak masuk karena harus menemani Ibun pameran di IBF, alhamdulillah para guru pun memaklumi dan Tizam menganggap proses menemani Ibun pameran merupakan pengalaman belajar yang baru baginya. Selama 2 hari izin untuk menemani Ibun pameran, selama itu pula Tizam mendapatkan pengalaman baru bertemu teman-teman dan berinteraksi dengan orang lain. Sungguh sebuah definisi belajar bisa dimana saja, dengan siapa saja dan kapan saja.

Selain itu, selama sebulan sekolah, dengan rutin Tizam akan bercerita bagaimana harinya saat dijemput. “Alhamdulillah, sekolah hari ini lancar bun, tadi aku …. teman-teman masa’ …..” dan lain sebagainya. Setiap momen pulang sekolah dan perjalanan menuju rumah menjadi sarana evaluasi bagi aku untuk melihat bagaimana Tizam di hari tersebut. Hal yang paling berkesan saat ia bercerita adalah ketika ia mengaitkan nilai yang selama ini tertanam di rumah dengan yang terjadi di sekolah. Seperti halnya ketika anak kelas lain masuk ke kelasnya, maka ia akan berkomentar bahwa harusnya anak tersebut meminta izin ketika mau masuk kelasnya. Begitupula ketika ada temannya yang meminta makanannya, maka ia akan bercerita bahwa ia membaginya karena senang jika makan bersama-sama.

Sebuah nilai yang membuatku bersyukur, karena meskipun saat itu Tizam di luar pengawasanku, Allah menjaganya melalui nilai yang selama ini ditanamkan. Allah izinkan ia untuk “Iltizam” (komitmen) dengan apa yang selama ini disampaikan dan ditanam. Sehingga ketika melihat langsung Tizam saat ia berinteraksi dengan teman-teman lainnya, aku yakin bahwa keputusan mengizinkannya masuk sekolah, memberikannya ruang untuk bersosialisasi tanpa menciderai individunya. Karena ruang kelas dengan jumlah anak yang sedikit, sehingga Tizam tetap mendapatkan porsi perhatian yang lebih dari guru-guru yang mendampinginya.

Hal ini aku sadari ketika bu guru menyampaikan bahwa Tizam menceritakan berbagai hal kepadanya di sesi kelas. Memberikan ruang kepada Tizam untuk berekspresi dan bercerita dengan nyaman. Alhamdulillah, menjadi satu momen yang berkesan juga karena para guru senantiasa berusaha untuk fokus dan memberikan ruang yang nyaman bagi anak untuk berbagi kisahnya.

EPILOG

Dengan demikian, meskipun aku merasa gagal untuk homeschooling secara utuh, namun proses Home Education bisa terus berjalan. Mulai dari tetap adanya kegiatan pasca sekolah, dialog iman yang terus ditanamkan setiap harinya serta rutinitias baru pasca sekolah yang membuat aku dan Tizam senantiasa menantikannya. Maka dari fase baru dalam hidup ini sebagai orang tua, aku yakin bahwa setiap orang tua memiliki pandangannya tersendiri mengenai pendidikan dan sekolah. Adanya sekolah hakikatnya sebagai fasilitas yang dapat diambil ketika kondisi membutuhkan. Namun tentu, sekolah yang sesuai dengan nilai keluarga.

Semoga cerita satu bulan Tizam bersekolah ini bisa menjadi catatan, bahwa He knows best. Apa yang selama ini dikira buruk untuk kita, ternyata merupakan kebaikan yang bisa diterapkan. Bahwa tidak menutup kemungkinan nilai yang selama ini digenggam bisa disesuaikan dengan kondisi yang datang. Adanya dinamika dalam kehidupan, merupakan sunnatullah yang senantiasa harus diadaptasi. Karena yang terpenting adalah bagaimana kita tetap berusaha menumbuhkan fitrah diri dan anak sesuai kemampuan diri, dengan tak lupa meminta petunjuk kepada Allahu Robbi. :’)

May Allah Permit

Jakarta, 19 Agustus 2022 

 

 

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja