Ketika manusia berencana, ketetapan Allah mengujinya. Apakah ia mampu menerima dan menjalani hal yang telah dituliskanNya? Pada tulisan ini, saya ingin bercerita tentang kisah mengenai rencana, ujian dan hikmah yang hadir menjelang 2 tahun kehadirannya di dunia ini. Cerita Imtiyaz, anak keduaku..

Pada tahun 2021, di bulan Agustus, tepat 2 bulan pasca proses sapih yang berhasil dilalui oleh Tizam, Allah mempercayakan kami seorang janin hadir di rahim saya. Kehadirannya yang diluar rencana kami membuat saya dan suami bingung dalam merespon fakta yang ada. Bagi saya pribadi, kabar kehamilan tersebut cukup membuat saya menangis pada awalnya, karena di saat itu saya baru saja memutuskan untuk melanjutkan kuliah S2. Tak terbayangkan bagaimana proses menjalani proses perkuliahan dan penyusunan tesis dalam kondisi hamil, terlebih baru saja Tizam memasuki usia 2 tahun. Kenapa sekarang ya Allah? 

Namun, ketakutan, kebingungan dan keresahan saat itu langsung dijawab oleh Allah secara kontan saat kelahirannya. :’) Proses melahirkan yang begitu mudah meskipun sedang dalam masa Covid saat itu. Perkuliahan secara daring yang dapat terus saya jalani sampai di detik-detik menjelang persalinan masih dapat mengerjakan UAS. Sampai Tizam yang biidznillah dapat berkoordinasi dengan baik dan bantuan dari berbagai pihak yang mendukung saya untuk dapat menjalani peran dan amanah saat Tiyaz lahir.

Maka nama Imtiyaz dengan makna ‘istimewa’ merupakan sebuah pengingat bagi kami. Bahwa Allah menghadirkan Tiyaz dalam waktu yang istimewa dan kondisi yang istimewa pula. Waktu yang istimewa karena ia hadir sebelum Ramadhan, dan kondisi istimewa dengan cerita yang saya ceritakan sebelumnya.

Menjelang 2 tahun usianya, saya pun menyadari bahwa waktu saya membersamainya belum begitu optimal. Namun, saya tetap fokus memperhatikan pertumbuhan dan perkembangannya, dengan terus mengobservasi dan memfasilitasi kebutuhannya.

Qodarullah, ada kegelisahan yang menyelimuti pikiran saya mengenai kondisinya saat ini. Sosok Tiyaz yang kalem, suka sekali makan, bergerak dengan aktif dan teratur dalam rutinitasnya, ternyata menyimpan sebuah masalah dalam dirinya. Hal yang selama ini mungkin diabaikan oleh orang sekitar kami, namun sangat mengganjal bagi diri saya saat itu.

Puncaknya, di tanggal 9 Maret, saya mencoba membujuk suami untuk dapat mempercayai kekhawatiran saya kali ini saja. Selama ini, berulang kali saya sampaikan kegelisahan saya mengenai kondisi Tiyaz yang seringkali pula dilihat bahwa ia baik-baik saja dari luar. Namun, saya yakinkan bahwa ini permintaan saya yang terakhir dalam permasalahan ini. Jika memang ternyata hasilnya baik-baik saja, maka saya akan mencoba untuk fokus kepada asupan dan pola makannya saja.

Karena Tiyaz sejak usianya 1 tahun, grafik pertumbuhannya menurun…

Satu per satu tes pemeriksaan dilakukan, mulai dari tes darah hingga mantoux dan rontgen paru. Ditemukanlah bahwa Tiyaz positif TB dari reaksi tes mantoux yang dilakukan. Qodarullah wa maa sya a fa’ala..

Perasaan yang mengganjal saat itu, terbukti dengan pernyataan dari dokter bahwasanya makanan yang selama ini dimakan oleh Tiyaz ternyata lebih banyak diserap oleh bakteri dalam tubuhnya. Sehingga sebanyak apapun yang ia makan, tidak sesuai dengan asupan yang tubuhnya terima.

Alhamdulillah, mengetahui kenyataan ini membuat saya sadar bahwa inilah saatnya saya ‘kembali’. Kembali menjalankan peran menjadi seorang ibu seutuhnya yang membersamai dan menyediakan yang terbaik untuk anak-anak saya. Karena hampir 2 tahun ini lebih banyak mendelegasikannya kepada orang lain. :'(

Terima kasih ya Allah atas teguranmu yang lembut ini melalui anak hamba..

Teguran yang tentu membuat saya mengingat kembali materi kajian Qadha dan Qadar. Bahwa Tiyaz sakit merupakan Qadha dariNya, dan adalah freewill saya yang berikhtiar menemukan penyebabnya dan semoga ikhtiar saya ini Allah hitung sebagai pahala.

Maka, melalui tulisan ini, saya hanya ingin mengingatkan diri bahwa kehadirannya Tiyaz di dunia ini merupakan anugerah dan amanah teristimewa untuk kami. Allah menitipkannya kepada kami karena tahu apa yang dapat kami lakukan untuknya dan kami mampu untuk menjadi orangtuanya. Semoga kami dapat terus membersamainya dengan sabar, ikhlas dan semangat untuk terus berhusnuzhon atas ketetapanNya.

May Allah Permit 

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja