Kuliah (Lagi) di Institut Ibu Profesional

Kuliah (Lagi) di Institut Ibu Profesional

Nyatanya kuliah tidak hanya belajar di suatu tempat untuk mendapatkan gelar, namun lebih bagaimana ilmu tersebut akan dimanfaatkan. Marilah mengetuk pintu rezeki lain yang telah Allah sediakan. 

Tahun 2018 mungkin adalah tahun dimana aku seambisi itu untuk mendapatkan beasiswa dalam melanjutkan studi. Sehingga kusadari, aku mulai hilang arah dan terkesan tidak yakin dengan jalan yang aku pilih. Terakhir adalah beasiswa LPDP yang sempat membuatku terpukul karena sempat diberi harapan hingga akhirnya kusadari bahwa belum saatnya aku melanjutkan studi lagi. Terutama kondisi yang aku miliki sekarang mungkin sudah tidak sesuai dengan jalan yang akan kujalani nanti jika memang aku tetap ingin berkuliah lagi.

Baca: Ibun’s Story – The Priority 

Sudah cukup 2018 aku mengejar mimpi melanjutkan studi S2 dan fokus kepada mengurus anak, karena tanpa aku sadari, seiring bertambahnya waktu, Tizam pun tumbuh dan menunjukkan berbagai perkembangan yang tidak boleh terlewatkan. Maka, siapa lagi yang akan merawatnya jika bukan ibunya? Siapa pula yang akan bertanggung jawab terhadap stimulasi tahapan perkembangannya jika bukan ibunya? Ya pastinya harus akulah yang selalu berada di sisinya dan membersamai setiap tumbuh kembangnya.

Maka di awal tahun 2019 ini akupun membulatkan tekad untuk fokus dalam mengurusi anak. Namun, ternyata mengurus anakpun menjadi begitu monoton karena aku ga punya panduan yang sesuai dan rasanya melewati hari bersama anak tidak ada habisnya. Akupun mulai kehilangan kepercayaan diri dan merasa kualitas diri menurun karena terbatasnya ibadah yang dilakukan karena mengurusi anak.

Pada akhirnya, aku coba untuk menantang diriku untuk dapat melakukan lebih dari hanya sekedar ibu rumah tangga biasa. Aku masih muda, semangat belajar tentu masih ada, banyak waktu luang yang dapat diisi dengan kegiatan yang bermanfaat. Adapula satu quote yang aku dapet yaitu: 

Just because you’re someone’s wife, someone’s mom, should not make you forget you’re someone too. 

Singkat cerita, akupun mengetahui bahwa ada sekolah Ibu bernama Institut Ibu Profesional yang menjadi wadah bagi para wanita untuk memberdayakan dirinya. Setelah kupikir lagi, alangkah baiknya jika aku kini mulai fokus kepada hal yang nantinya akan berguna bagi orang sekitarku. Dalam hal ini, suami dan anak lah yang paling dekat. Maka belajar kembali di Institut Ibu Profesional mungkin adalah jalan bagiku saat ini. 

Apa Itu Institut Ibu Profesional? 

Institut Ibu Profesional (IIP) adalah sebuah forum belajar yang dibangun oleh Bu Septi Peni Wulandani sebagai Founder. Ide untuk membuat IIP ini adalah bermula dari lelahnya beliau dalam mengurusi anak dan rumah tangga yang ternyata disadari oleh suaminya Pak Dodik Mariyanto dan berusaha untuk mendidiknya dengan memberinya berbagai tugas yang ternyata berdampak pada pola fikir Ibunya untuk membuat gagasan Ibu Profesional. 

Siapa sangka, dari keluhan dan lelahnya Bu Septi, ternyata suaminya dapat mendidiknya dan menjadikan apa yang ia berikan kepada istrinya sebagai sebuah tempaan baginya untuk dapat mengubah perspektif dan memiliki gagasan luar biasa yang sampai kini terus diminati oleh para Ibu di seluruh dunia. Disini, di Institut Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. 

Mengenai ide awal Bu Septi membangun IIP ini menurutku sangat luar biasa, dan MasyaAllah. Ternyata ada loh sekolah Ibu. Hehe. Yang selama ini aku sering merutuki diri sendiri karena merasa penuh dengan kegiatan mengurus rumah tangga dan keluarga, alhamdulillah ternyata ada sekolah yang nantinya akan mengajari kita untuk berdamai dengan semua itu dan mengajak kita untuk memberdayakan diri menjadi ibu seutuhnya. 

Nah latar belakang yang diceritakan tadi aku tau saat memasuki kelas Foundation IIP. Kelas ini adalah kelas pengenalan mengenai IIP baik itu latar belakangnya, teknis belajarnya, tahapannya dan berbagai hal lainnya yang menjadi pengantar untuk kita para calon mahasiswa sebelum memasuki Matrikulasi. Untuk memasuki kelas Foundation ini, aku harus nunggu sampai pembukaan kelasnya yang akan diumumkan melalui akun resmi IIP sendiri. Jadi harus stay tune banget untuk tau informasi pendaftarannya. 

Alhamdulillah, selama 2 minggu mengikuti kelas Foundation, semakin mantaplah keinginanku untuk belajar di IIP. Selain dari teknis dan kurikulumnya yang teratur dan jelas, pastinya sesuai untuk kita para ibu khususnya dan wanita umumnya untuk mengembangkan diri. Karena tanpa sadari, aku sendiri merasa bahwa menjadi ibu adalah suatu keharusan yang absolut sehingga kadang menjalaninya begitu berat. Padahal menjadi Ibu itu pilihan loh. Aku yang memilih untuk menikah, aku juga yang bersedia untuk hamil dan melahirkan anak. Jadi dari pilihan tersebut itu terkadang aku merasa berat menjalaninya karena lupa bahwa memang inilah pilihanku yang pasti telah Allah takdirkan sebelumnya. Dan takdir Allah pasti yang terbaik. Tinggal bagaimana aku atau kita yang menjalaninya ini memandangnya. 

Lalu, setelah mengetahui berbagai seluk beluk IIP, masuklah aku ke tahapan selanjutnya yaitu kelas Matrikulasi. Di IIP sendiri ada beberapa tahapan kelas yang akan dijalani jika telah lulus dari Matrikulasi, yaitu kelas Bunda Sayang, Bunda Cekatan, Bunda Produktif, dan Bunda Saleha, Untuk kelas Matrikulasi sendiri memiliki durasi 3 bulan. 

Sebelum memasuki kelas Matrikulasi, aku yang sebelumnya mengikuti kelas Foundation harus mendaftarkan diri kembali. Untungnya, untuk peserta kelas Foundation telah disediakan kuota sehingga dapat mendaftar terlebih dahulu sebelum dibuka kembali pendaftaran untuk non-Foundation. Untuk pendaftaran Matrikulasi diharuskan membayar sekali uang investasi sebesar Rp. 100.000 sampai kita lulus IIP. Di IIP pun jika kita tidak lulus Matrikulasi diberikan kesempatan sekali lagi untuk mengikuti kelasnya tanpa harus membayar lagi. Akupun ketika mendaftar izin dulu ke suami dengan alasan bahwa dengan memasuki kelas ini aku bakal bisa menggunakan waktu aku lebih baik dan jadi ibu seutuhnya. Dia pun setuju dan mengizinkan karena memang sebelumnya aku sering mengeluh karena keinginanku untuk belajar lagi belum bisa terwujud. Makasih Yung! XD 

Memasuki Kelas Matrikulasi 

Akupun diundang ke grup Matrikulasi Batch 7 IIP Regional Batam – Bangka Belitung. Ternyata lumayan banyak juga Mahasiswi IIP yang berada di wilayah tersebut. Namun, untuk Bangka Barat sepertinya hanya aku sendiri. Hehe. Memasuki grup Matrikulasi tentunya lebih menegangkan dibanding dengan kelas Foundation karena memberikan rasa Pra-Perkuliahan. Di Matrikulasi ini nanti kita akan diberikan 9 Materi dan Tugas bernama Nice Homework (NHW). Untuk dapat lulus dari Matrikulasi harus mengerjakan minimal 7 dari 9 NHW yang ada. Mengerjakan NHW nya pun secara online yaitu melalui Google Classroom dengan berbagai media, baik Document, Gambar dll. Wah, menantang sekali bukan? 

Di kelas Matrikulasi ini pun aku mencoba menantang diriku kembali untuk berkontribusi lebih dengan mengajukan diri sebagai salah satu Koordinator Mingguan yang nantinya akan menjadi penanggung jawab dalam rangkaian materi yang disampaikan oleh Fasilitator. Walaupun agak takut, tapi bismillah. Kapan lagi ya kan? Wkwk 

Oh ya, sebelum memasuki perkuliahan di kelas Matrikulasi, panitia IIP sendiri telah menyiapkan Studium Generale  (SG) yaitu seperti kulia umum di Telegram yang diikuti oleh semua peserta Matrikulasi yang berada di seluruh Indonesia dan luar negeri. Ketika memasuki grup tersebut pun hawa keramaian mulai terasa. Bayangkan saja puluhan ribu ibu-ibu berkumpul dalam satu grup, betapa ramainya! Hehe. Selama 2 hari mengikuti SG perasaanku kembali diyakinkan bahwa memang inilah pintu rezeki yang Allah bukakan untukku. Dimana ketika aku belum diizinkan untuk melanjutkan pendidikan, maka aku ditunjukkan jalan untuk melanjutkan pendidikan lain yang lebih berguna untukku saat ini yang secara tidak langsung juga membantuku menerima peranku ini. 

Di SG dijabarkan lah orang-orang hebat yang berada di balik penyelenggaraan Matrikulasi IIP ini, baik panitia dan Fasilitatornya yang bersedia melayani. Begitu pula para Mahasiswi IIP Batch sebelumnya yang telah melalui Matrikulasi, secara keseluruhan mereka menyatakan bahwa Matrikulasi membuat mereka untuk dapat menemukan passion yang ada dalam diri, untuk dapat berdamai dengan keadaan, dan telah merubah sebagian besar hidup mereka untuk dapat menjadi seorang Ibu yang mandiri dan profesional. 

Wah, semakin yakinlah diriku untuk berada disini dan belajar kembali. Walaupun belum terbayang bagaimana kedepannya dalam menjalani hari-hari selama Matrikulasi, namun yang terpenting aku harap bisa komitmen, konsisten dan optimal dalam mengikuti kelas ini sebaik-sebaiknya. Disini ditekankan bahwa For things to change, change first. Perubahan mulai dari diri sendiri dan bismillah, mulai esok hari kelas ini akan dimulai dengan resmi. 

Terima kasih Ya Allah telah menggantikan doaku dengan hal yang terbaik untukku. 

Everything that’s meant to be it will be. 

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: