Ibun's Story – The Priority

Ibun's Story – The Priority

Memiliki anak berarti harus siap menjadikannya sebagai prioritas..

Setelah cukup merasakan berbagai sensasi menjadi ibu baru, kini aku dihadapkan dengan realita bahwa keinginanku kadang harus dihadapkan dengan anak sebagai prioritas utama.
Dalam hal ini adalah keinginanku untuk melanjutkan S2 di luar negeri.
Setelah berbagai ikhtiar dalam mencari beasiswa, sampailah aku pada beasiswa LPDP yang menjadi ikhtiar terakhir ku di tahun ini. Alhamdulillah, setelah lolos seleksi administrasi, sampailah aku pada Seleksi Berbasis Komputer yang baru ada tahun ini di rangkaian seleksi LPDP. Lalu bagaimana hasilnya? Lanjutin dulu bacanya yah..
Sebenarnya, untuk persiapan LPDP udah aku persiapin dari semenjak lulus kuliah di tahun 2017. Karena waktu itu ijazah aku keluarnya setelah penutupan pendaftaran dan ga boleh pake SKL maka ditundalah daftarnya dan baru tahun 2018 ini aku ikut menjadi bagian dari calon awardee.
Ikhtiarku dalam beasiswa LPDP ini cukup menantang, selain karena harus bolak balik antar kota untuk mendapatkan hasil tes TBC saat proses seleksi administrasi, perjuangan setelah pengumuman lolos lebih berat lagi.
Tanggal 3 Oktober, setelah pengumuman kelulusan seleksi administrasi ku, datanglah pengumuman jadwal tes SBK yg diadakan di Jakarta. Aku yg waktu itu belum kepikiran lolos, bingung karena belum adanya persiapan. Rencana awal ke Jakarta pada bulan Desember, Qodarullah dimajukan menjadi bulan Oktober.
Bismillah, akupun mulai melakukan persiapan belajar soal2 untuk tes SBK.
Dulu, sebelum punya anak, aku bakal ngerjain soal dengan durasi dan target yg sesuai. Realitanya, setelah punya anak, well semuanya berantakan πŸ˜‚. Yg mau mulai belajar tiba2 anak bangun dari tidurnya lah, yg mau nyusu lah, yg mau diajak main lah dan berbagai hal lainnya yg akhirnya aku hanya mendapatkan waktu belajar saat malam.
Alhamdulillah belajar saat malam dalam beberapa hari masih bisa aku lakukan, sampai pada saat Tizam imunisasi…
Imunisasi di Posyandu dilakukan setiap tanggal 10, dan tanggal 13 aku udah terbang ke Jakarta. Qodarullah, setelah imunisasi Tizam demam. Lumayan rewel sampai cukup bikin aku harus fokus kepadanya. Lagi-lagi waktu belajarku berantakan. :'(
Kalo dulu mungkin aku bakal marah karena jadwal dan target yg aku susun jadi berantakan, tapi kalo sekarang, dengan melihat alasan kenapa hal itu terjadi, aku mengerti bahwa seharusnya aku fokus kepadanya. Kepada Tizam yang saat ini membutuhkan aku…
Maka setelah menyadari hal itu, akupun mulai fokus belajar lagi setelah kebutuhan Tizam terpenuhi. Tapi ya yg namanya udah lebih dari 4 tahun ga belajar MTK, yaudah lupa lagi dah tuh matdas πŸ˜‚. LPDP tahun ini memang sungguh ajaib dengan adanya TPA sebagai salah satu komponen penilaiannya.
Walaupun ajaib gitu, mau ga mau harus diikutin kan? πŸ˜… Dan terbang lah kami di hari Sabtu ke Jakarta dan bersiap untuk tes pada hari Senin.
Sesungguhnya malam sebelum tes aku sempet stres karena merasa persiapan belum maksimal. Ditambah lagi dengan banyaknya harapan orang-orang dengan hasil tes ku ini, karena tes inilah yg nanti akan mendekatkanku untuk mendapatkan beasiswa. Akupun diam aja sambil ngerenungin sendiri karena takut dengan ekspektasi orang-orang. Suami pun merasakan hal itu dan mencoba menenangkan dengan memberitahu bahwa ikhtiarlah yg utama, soal hasil nanti bisa di ikhtiarkan kembali.
Yap, inilah yg aku kadang lupa, bahwa usaha lah yg dilihat. Tapi kalo emang usaha akunya belum maksimal gimana?? 😭
Ya lagi-lagi suami aku mengingatkan bahwa perjuangan mencari beasiswa ini emang ga akan mudah, dan pastinya jika memang beasiswa ini milik kita, ya pasti akan terjadi. Yap, lagi-lagi aku lupa kalo everything that’s meant to be it will be.
Yaudah deh, setelah malam penuh drama, bismillah tak coba susun lagi niat dan persiapanku untuk tes.
Berangkat pagi-pagi jam 6 karena takut macet dan gatau jalan, padahal jadwal jam 10 πŸ˜‚ dan jadilah nunggu di musholla Kanreg BKN V Ciracas selama 4 jam 😌
Tizam yg waktu itu harus ikutpun harus dimandikan pagi-pagi dan meminum ASIP melalui botol. Sebenernya ga tega banget aku harus ninggalin Tizam untuk tes, tapi apalah daya, namanya juga usaha, pasti ada yang dikorbankan.
Memasuki ruang tes yang dingin dan dihadapkan dengan komputer untuk tes TPA cukup membuatku takut dengan apa yang akan terjadi. Tapi bismillah, cobalah dijawab soalnya satu-satu.
Dan ternyata soal nya….
SUSAH πŸ˜‚πŸ˜‚
Susah bagi aku yang kurang persiapan
Susah bagi aku yang ga fokus
Susah bagi aku yang ngerjain πŸ˜‚
Ya intinya harus belajar banget jika memang mau tes TPA ini. Dan kayanya aku udah ngerasa gagal di tahapan ini.
Selain tes TPA, adapula tes Soft Competency dan Essay on the Spot. Ya jangan tanyalah, karena walaupun udah dikerjain sebaik apapun tetap saja yang menentukan lolos atau tidaknya di tahapan ini adalah TPA.
So, sempet down ketika hasil yang muncul tidak sesuai yang diharapkan, dan ketika pengumuman resminya pun muncul permohonan maaf bahwa aku belum lulus tes ini.
Mungkin kalo Izzati yang dulu bakal mencak2 dan evaluasi terus berbagai kemungkinan tidak lolosnya dan bakal cukup pusing mikirinnya.
Kalo sekarang, entah kenapa saat pengumuman maaf itu muncul di status dalam akun LPDP ku, alhamdulillah aku lega.
Aku lega karena ternyata Allah begitu baik menghentikanku di tahapan ini.
Kenapa?
Karena dengan berhentinya aku di tahapan ini, aku jadi tidak perlu lebih lama di Jakarta karena waktu tes substansi yang hanya berjarak 1 minggu setelah pengumuman, yang berarti aku harus mempersiapkan lagi untuk tes selanjutnya yang pasti nya nanti akan meninggalkan Tizam lagi.
Selain itu, dengan dihentikannya aku di tahapan ini membuatku lebih yakin untuk dapat fokus kepada Tizam dan merintis dulu apa yang ada disini.
Karena aku sadari bahwa S2 ku ini nantinya pasti akan lebih bermanfaat jika aku sudah mendapatkan lahan untuk menerapkan ilmuku disana. Jadi, alangkah baiknya aku mempersiapkan semuanya terlebih dahulu.
Lalu, dengan aku berhenti di tahapan ini membuatku tahu bahwa ada suamiku yang sebenarnya lebih berhak untuk melanjutkan studi terlebih dahulu. Kemudian Tizam yang saat ini masih kecil pasti membutuhkan aku.
Mungkin pernyataan diatas ini terlihat seperti alasan ku saja yang ingin menghibur diri sendiri.
Well… IT IS!
Dari ketidaklulusan ini aku berusaha mencari hikmah dibalik semua itu. Dengan harapan Allah pasti memiliki rencana yang lebih baik dari ini.
Jadi, dibanding terpuruk karena kegagalan ini, aku jadi lebih banyak bersyukur dan melihat kembali bahwa ini semua terjadi mungkin karena dia.
Iya, dia si anak sholih yang bernama Tizami.
Anak sholih yang kini menjadi prioritasku, tanggung jawabku atas amanah yang Allah berikan untuk dapat menyayanginya, menjaganya dan mendidiknya dengan baik. Dan melanjutkan S2 pun belum tentu dapat memenuhi hal tersebut.
Maka kembali lagi, aku mencari hikmah dari semua ini dengan melihat kembali prioritas dalam hidupku ini. Prioritas sebagai seorang istri dan ibu bagi keluarga kecilku, yang aku yakin InsyaAllah peran sebagai mahasiswi Master pasti akan aku jalani di saat yang tepat.
Kapan kah?
Wallahu a’lam. He knows best. ❀️

0 thoughts on “Ibun's Story – The Priority

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: