Ibun's Story – The Sensation

Ibun's Story – The Sensation

“Jadi, gimana sensasinya menjadi seorang Ibu?”

Dengan berbagai perubahan dalam hidupku yang cenderung sangat cepat…. Dari seorang perempuan yang ingin menggapai cita-cita, lalu dinikahi dan menjadi seorang istri sampai akhirnya dapat melahirkan dan menjadi seorang ibu. Sungguh timeline seseorang tidak diketahui kapan akan terjadi, namun yang kita ketahui adalah everything that’s meant to be it will be dan aku yakin inilah waktu yang tepat bagiku untuk menjadi seorang ibu.

Melahirkan seorang bayi laki-laki dengan segala hal yang ia bawa ke dunia ini tentu menjadi suatu hal yang benar-benar baru bagiku. Masa mengandung 9 bulan yang hanya merasakannya, kini bisa dilihat. Lalu, bagaimana sensasinya menjadi seorang ibu?

Awalnya, setelah banyak baca cerita tentang newborn, akupun excited dan ga sabar untuk menyambutnya. Mempersiapkan segala hal untuk dapat mengurusnya sendiri.

Namun, jujur, proses melahirkan yang cukup ‘menyakitkan’ karena luka jahitan yang dibongkar dan dijahit lagi cukup membuatku merasa trauma ketika mengingat rasa sakitnya, sampai beberapa minggu setelah melahirkanpun hanya bisa duduk dengan posisi kaki selonjoran. Karena hal inilah aku sempat mengalami baby blues yang membuatku tidak bisa mengurus bayi secara langsung. Alhamdulillah dengan adanya bantuan suami dan Umi, Tizam bisa diurus dengan baik dan aku hanya bertugas untuk memberi ASI.

Drama Ibu baru pun dimulai…

Waktu Tidur yang Kacau

Nasihat dari setiap teman yang sudah menjadi ibu ketika mengucapkan selamat atas kelahiranku adalah…

“Selamat begadang Zat!”

Well, awalnya aku mikir kalo paling begadang cuma kebangun bentar, nyusuin terus tidur lagi, atau ga paling ganti popok terus tidur lagi. Saat bayi tidur pun nanti harus tidur lagi biar ga capek.

Realitanya….

Entah berapa kali aku kesel karena harus bangun malem-malem dan nyusuin, ganti popok ataupun gendong, yang setelah aku pikir, “perasaan daritadi udah nyusu ko nyusu lagi? Tadi udah pipis ini keluar lagi? Mau sampe kapan gendongnyaa?” Wah luar biasalah realita hidup Ibu baru yang sebenarnya X”)) Sampai ada saat dimana aku udah ga sabar banget dan nangis trus diemin aja si Tizam. Nah saat seperti inilah suami siaga dibutuhkan. :”)

Alhamdulillah suami aku tipe yang dengan mudah kebangun ketika mendengar suara. Maka ketika mendengar tangisan Tizam yang cukup lama, diapun dengan siaga menggendong Tizam dan menenangkannya. Kalaupun ternyata ga ampuh karena Tizamnya haus, maka ia akan membangunkan dengan pelan dan minta aku buat nyusuin setelah Tizam agak tenang nangisnya.

Inilah sensasi pertama yang dirasakan oleh seorang Ibu baru. Keidealisan yang runtuh ketika dihadapkan dengan realita. Mau istirahat ketika Tizam tidur pun mungkin cuma beberapa menit karena kepikiran cucian dan aktifitas lainnya yang harus dilakukan. Jadi, sekarang ambil sisi positifnya aja, waktu tidur yang kacau? Nikmatin aja, jadinya bisa menghargai waktu banget :’))

Sensasi yang kedua adalah…

Air Mata Buayi

Tizam termasuk bayi yang anteng sebenarnya, karena pas awal dia nangis karena ada alasan. Seperti waktu itu Tizam lagi tenang tidur di kasurnya sampai tiba-tiba dia teriak keras banget sampai kita kaget nyamperin terus ngebuka bedong nya. Ternyata ketika kita buka bedong, tali pusarnya puput terus kita ambil. Setelah itu udah. Tidur lagi dia. –” Kirain teh bakal nangis kejer, ternyata setelah kita lakuin apa yang dia mau yaudah cukup. Jadi air mata yang dikeluarin cukup sampai itu aja. Kalo kata temen-teman kampus mah Tizam anaknya anti-klimaks. X’D

Tambah lagi semakin gede dia semakin jadi anti-klimaksnya. Terlebih lagi pas dia tidur, ketika udah anteng tidur dengan damai, tiba-tiba bunyi tuh rengekan kaya mau nangis, mau sholat pun jadi tertunda karena niatnya mau nenangin dulu, eh ternyata cuma nangis merengek doang tanpa buka mata. Dideketin ternyata gajadi nangis. Oke fix. Ni anak suka banget bikin deg-degan. :”)) Nah karena udah tau Tizam anaknya begini, jadinya ketika ia tidur dengan tenang, langsung buru-buru melakukan kegiatan karena pasti kalo udah bangun susah lagi nidurinnya. Hehe

Perihal Air Mata Buayi ini suami aku pasti selalu ngingetin bahwa tangisan Tizam itu adalah cara untuk ia berkomunikasi. Makanya pasti selalu ada alasan dibalik tangisnya. Kalo ga ada alasan kadang suka aku tanyain “Tizam mau apa? Coba bilang sama Ibun sini.” Dan dia akan perlahan-lahan diem dan mikir juga kali ya mau apa. Hehe

Lanjut sensasi selanjutnya…

Bertarung dengan Statement “Ko kaya gini sih?”

Anak yang lahir di zaman milenial ini dan ibu yang melahirkan di era milenial harus siap dengan pertanyaan “Ko kaya gini sih?” dari para orangtua zaman old.

Karena ternyata pertanyaan dan perlakuan orang lain yang ga sesuai dengan prinsip kita bisa bikin kita cukup stres dan depresi karena gimanapun itu anak kita dan kitalah yang berhak menentukan harus bagaimana perawatan anak tersebut.

Saat awal aku pulang ke rumah, seperti umumnya, Umi yang akan mengurus Tizam pertama kali. Seorang nyai pastilah akan memperlakukan cucunya sebagaimana ia mengurus anaknya dulu. Maka ketika aku sampai rumah, Umi pun heboh mencari gurita dan koin untuk dipakaikan. Karena waktu itu tali pusar Tizam belum puput dan di rumah sakit juga ga dipakai. Seminggu setelah tali pusar puput, Umi pun memakaikan Tizam gurita dan pada hari itu juga kami bawa Tizam ke rumah sakit untuk di imunisasi. Sesampainya di rumah sakit, dikritik dan dilepaslah gurita yang terikat oleh dokter anak seraya mengingatkan bahwa hal tersebut tidak perlu.

Karena saran dari dokter seperti itu maka diturutilah dengan tidak memakaikan gurita walaupun Umi bersikeras bahwa dulu sejak kita kecil di gurita dan tidak berdampak apa-apa kepada kami. Lama kelamaan isu gurita pun semakin menjadi saat pusar Tizam diketahui tidak masuk ke dalam dan justru menggelembung keluar. Akupun yang awalnya mengganggap hal itu biasa mulai parno dan stres karena seolah-olah hal itu terjadi karena aku ga dengar apa kata Umi untuk memakaikan gurita. Ga hanya Umi, tapi Abi, mertua dan orang sekitar yang melihat Tizam pun mempertanyakan hal tersebut. “Ko udel nya kaya gitu sih? Pasti ga di gurita dan ditempelin koin yah?”

Pertanyaan seperti ini, walaupun terkesan seperti menasehati namun bagiku yang merasa telah melakukan sesuai dengan prinsipku merasa cukup terganggu dengan pertanyaan seperti itu yang seolah-olah menyalahkan aku. Karena hal inilah aku mulai stres dan tertekan setiap kali melihat pusar Tizam. Walaupun aku tau Tizam ga kesakitan dan baik-baik aja, tapi nyatanya pertanyaan orang-orang sekitar membuatku khawatir dan berbalik menyalahkan diri sendiri. “Kenapa waktu itu ga dengerin kata Umi?” “Waktu itu pusar nya belum sebesar ini kan?” “Maafin Ibun nak ya sampai kamu harus kaya gini.” dan berbagai keluhan lainnya yang membuat terus memikirkan solusi untuk hal ini.

Sampai pada akhirnya aku mencoba mencari berbagai informasi dan menanyakan teman bidanku mengenai hal ini, sampailah aku pada kesimpulan bahwa pusar Tizam normal dan nantinya akan mengecil sendiri. Namun ya yang namanya orangtua pasti menginginkan fakta dari pihak yang berwenang (walaupun waktu itu aku udah nanya via Alodokter). Maka pergilah kami ke dokter anak untuk mendapatkan fakta tersebut.

Saat dokter melihat dan memeriksa pusar Tizam pun diketahui bahwa pusar Tizam dalam kondisi hernia umbilikalis yang memang terjadi pada sebagian besar bayi karena kondisi dinding perut yang belum menutup dan kulit perut yang tipis sehingga ketika Tizam mengejan, pastinya udara yang ada akan berkumpul kepada lapisan kulit tersebut dan membuatnya seperti bergelembung. Hal tersebut normal dan bisa mengecil kembali kecuali jika pusarnya tidak bisa ditekan masuk kembali dan memerah, baru harus dibawa ke dokter bedah. Maka walaupun digurita dan ditahan pusar nya pake koin ga bakal ngaruh karena wong lubang nya masih belum nutup? Yang ada malah copot nanti karena kedorong sama pusarnya yang berisi udara.

Nah ketika fakta tersebut aku sampaikan secara medis dari dokter maka orangtua ku pun berhenti menanyakan pusar Tizam dan mulai menerima kondisinya. Inilah sensasi lain yang harus diterima seorang ibu mengenai anaknya. Perkataan orang lain bahkan dari orangtuapun terkadang terdengar begitu menyakitkan ketika membicarakan tentang anak kita karena kita yang lebih tahu bagaimana kondisinya, kita yang tahu gimana pola asuh nya dan kita, Ibu yang berhak untuk memutuskan apa yang harus dilakukan kepada anaknya.

Maka perasaan stres dan tertekan pastilah ada sehingga suami harus siaga lagi X’D Karena kalo bukan dia siapa lagi? Wong ini anak kita berdua. Hehe. Pas stres itu suami pun yang kena getahnya, di diemin, di cemberutin, di uring-uringin sampai akhirnya meledak dan nangis bombay karena kesel sendiri kenapa harus mendengar hal seperti itu. Alhamdulillah, dengan komunikasi seperti itu akhirnya lega juga dan bisa berfikir jernih, karena sebenarnya apapun yang terjadi pastilah sesuai dengan kemampuan yang kita miliki. Bukankah Allah udah mengingatkan?

Laa Yukallifullaahu Nafsan Illa Wus’ahaa

Allah tidak membebani seseorang kecuali yang sesuai dengan kemampuannya.”

Dengan mengingat ayat ini jadi bersyukur banget bahwa Allah ngasih aku ujian seperti ini karena sesuai dengan kemampuanku dan bisa dihadapi. Hal yang terpenting adalah sabar dan senantiasa berfikir positif. Terutama seorang Ibu, jangan sampai ada kata kasar ataupun keluhan yang dikatakan karena pasti dampaknya ke anak.

Dari berbagai sensasi inilah yang membuatku mengerti bahwa menjadi Ibu butuh persiapan, namun persiapan tersebut tidak bisa kita jadikan sesuatu yang idealis untuk dibayangkan karena pasti akan kecewa pada realita yang ada.

Menjadi Ibu pun tidak harus sempurna, karena kesempurnaan itu hanya akan menjadi fatamorgana ketika dihadapkan dengan kesalahan yang ada.

Ibu juga manusia dan wajar jika Ibu menjadi manusiawi. Kalo ngantuk ya tidur, kalo capek ya istirahat, kalo marah yang lampiasin. Tapi lampiasin nya ke suami ataupun diredam dan diselesaikan, jangan ke anak. Kenapa? Karena kalo ke anak ujung-ujungnya pasti menyesal, “Tizam kan ga tau apa-apa”, “Tizam kan juga berusaha untuk hidup di dunia ini”, “Tizam juga gatau gimana ngomongnya” dan berbagai alasan lainnya yang harus dibuat untuk menyadari penyesalan tersebut.

Tak lupa peran suami yg ga kalah penting sebagai partner dalam mengurus anak. Jadi dari awal menikah carilah suami yg bapak-able sehingga ia ga hanya bertugas mencari nafkah tapi juga dalam mengurus anak. Carilah suami yang mudah turun tangan, kalaupun tidak carilah ia yg memahami peran mu sebagai istri sehingga tidak membebanimu.

Dan inilah cerita Ibun mengenai sensasi yang dirasakan saat menjalani peran sebagai Ibu. Tentu ini hanya sebagian kecil karena pastinya ada banyak sensasi yang dirasakan ketika berhadapan dengan anak. Namun inilah ceritaku menjadi seorang Ibun. Bagaimana dengan Ibu?

0 thoughts on “Ibun's Story – The Sensation

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: