Married by Time – From Couple to Family

Married by Time – From Couple to Family

Tahapan selanjutnya setelah pernikahan adalah terbentuknya keluarga. Alhamdulillah sang malaikat kecil hadir di usia pernikahan kami yang ke 10 bulan.

Saat itu tanggal 13 November 2017, dua garis tanda positif menyambut hariku dan suami yg masih terlelap. Alhamdulillah, hari itu menjadi hari bahagia bagi kami yg ternyata telah Allah titipkan selama 1 bulan di dalam rahimku.
Setelah mengetahui kabar tersebut, kutekadkan untuk mengubah pola hidup dan life plan ku. Mengajar dan apply untuk melanjutkan S2 menjadi sebuah agenda sambil menyambut kehadirannya.
Awal kehamilan yg cukup menguji di trimester pertama membuatku harus menimilasir kegiatan mengajar, suami pun harus siap sedia menggantikanku mengajar. Selama 3 bulan pertama kehamilan, alhamdulillah semuanya bisa dilewati dengan baik, sampai bulan Desember kamipun masih bisa menikmati baby moon ke Jakarta.
Berlanjut ke trimester kedua, dimana cobaan selama kehamilan mulai ada ujian. Walaupun kondisi kehamilan mulai stabil, namun kegiatan di trimester kedua mulai menguji. Walaupun begitu, melihat hasil usg yg menunjukkan bahwa kondisinya sehat dan aktif membuatku bersemangat untuk terus beraktifitas. Kegiatan mengajar sampai sore, lalu mengisi berbagai agenda membuatku untuk terus aktif menjalani kehamilan.
Di trimester ketiga, merupakan tahap akhir dari penantian yg ternyata harus aku hadapi dengan lebih kuat lagi. HPL dari dokter mengindikasi bahwa sang malaikat akan lahir pada 17 Juli 2018. Seminggu setelah hari lahirku. Namun dari prediksi tersebut, entah mengapa aku harapkan ia untuk lahir di bulan Juni. 😅
Alhamdulillah di trimester ketiga perutku mulai menunjukkan kehamilanku dan juga merasakan bahwa rasanya hamil ternyata seperti itu 🤣. Berat yg awalnya 41, melonjak naik ke 56 yg menurutku begitu sulit untuk menyentuh angka 50 jika tidak hamil 😂. Rasa sesak dan beban di perut membuatku terbatas dalam melakukan berbagai aktifitas.
Dalam waktu ini, aku berdoa untuk senantiasa diberi kekuatan, dan terus memberi afirmasi positif kepada sang bayi untuk ‘bekerja sama’ dengan sang ibun menjalani hari-hari. Alhamdulillah berbekal follow akun instagram @bidankita @ibupedia_id @asiku.banyak dan membeli buku #bebastakut hamil dan melahirkan setelah berbagai diskusi dengan teman-teman yg berpengalaman dalam melahirkan *colek @salmaysaa @anisthoriq @fhildayanti @fathimahazzhr @qonimaulida
dan para bidan favoritku @faizahelma @as.karimah26 makasih banyak atas segala dukungan dan pengalaman kalian yg menjadikanku untuk terus positif menjalani kehamilan 😍❤️
Memasuki bulan ke 8 kehamilanku diuji dengan diharuskannya aku mengikuti diklat kurikulum 2013 yg dilaksanakan selama 6 hari di awal bulan puasa mulai dari jam 8 sampai jam setengah 5 sore. Yg awalnya ragu karena kondisinya saat puasa dengan jadwal yang full, namun senang karena memang itulah tujuanku mengajar karena ingin mengetahui berbagai sistem dalam pendidikan di Indonesia.
Alhamdulillah nya, ketika mengikuti pelatihan tersebut didukung banget oleh panitia dan para peserta guru lainnya yg memberikan kemudahan kepadaku untuk mengikuti berbagai rangkaian kegiatan.
Lanjutlah menjalani ibadah puasa sambil menunggu HPL. Alhamdulillah setelah pembagian rapot aku dan suami stay di rumah orangtuaku sambil menunggu dia hadir. Puasa selama sebulan pun alhamdulillah berhasil kujalani bersamanya dengan penuh. Sampai H+3 lebaran, kamipun bersiap menuju ke Kota Pangkal Pinang dimana kami berencana untuk melahirkannya disana.
Menjelang umur kehamilan 36 minggu, akupun mulai melakukan pemeriksaan rutin, mulai dari dokter kandungan di RSIA Muhaya Pangkal Pinang, yg ternyata dari hasil USG nya menunjukkan bahwa usia janinku berbeda dengan usia kehamilanku. Usia yg diprediksi baru 36 minggu, ternyata sudah seperti 41 minggu. Hal ini dikarenakan bb janin yg melebihi karena mencapai 3,6 kg dan adanya pengapuran di plasenta grade 3 yg dikhawatirkan nantinya akan membahayakan janin.
Awalnya saat itu disarankan untuk melakukan induksi karena aku belum sama sekali merasakan kontraksi. Namun aku meminta penundaan karena ingin berusaha induksi alami. Setelah pulang dari rumah sakit dan mendengar vonis seperti itu, akhirnya aku berusaha keras untuk dapat melakukan induksi alami. Terhitung hari Senin tanggal 25 Juni aku divonis seperti itu, dengan kondisi Umi yg masih di Jakarta, aku berharap agar nanti ia lahir saat umi dan suamiku ada.
Saat aku meminta penundaan, dokter pun menyarankan agar aku datang kembali dalam waktu 3 hari untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun ternyata hari Rabu, Umipun meminta untuk melakukan check up dengan adanya pertimbangan induksi tersebut, karena jujur aja, setelah melakukan berbagai usaha induksi alami, itu rahim masih kebal banget dan belum ada tanda kontraksi sama sekali.
Akhirnya bismillah, Allah yang Maha Tahu segala sesuatu, namun saat itu aku berharap untuk dapat melahirkan secara normal dalam kondisi bagaimanapun. Karena jujur, istilah Caesar setelah aku banyak belajar dari buku merupakan opsi terakhir yg harus aku ambil ketika proses persalinan. Maka betapa pentingnya mencari ilmu mengenai persalinan, rumah sakit dan dokter yg pro normal.
Saat pemeriksaan ternyata plasenta janinku sudah mulai menurun kualitasnya dan disarankan untuk diinduksi saat itu juga karena khawatir kondisi mendadak yg bisa terjadi jika dibiarkan, seperti gagal janin ataupun berbagai komplikasi lainnya.
Yg awalnya niatnya cuma kontrol aja dan ternyata saat itu harus udah masuk ruang perawatan, yaudah bismillah. “Everything that’s meant to be it will be.” Setidaknya aku sudah berusaha untuk induksi alami, karena saat diperiksa aku masih berada di pembukaan 1. Hmm, still a long way to go :’)
Dengan dukungan dan ridho suami, bismillah, akupun bersama Umi menuju ruang UGD untuk mengecek darah dan urin untuk persiapan persalinan. Alhamdulillah waktu itu kami sudah menyiapkan BPJS untuk pembiayaan persalinan ini sehingga bisa tercover semua segala pembiayaan yang ada.
Suami yg mengurus segala administrasi pun akhirnya selesai dan akupun harus memasuki ruang perawatan untuk dimasukkan obat perangsang kontraksi. Bismillah, semoga yg terbaik.
Setelah dimasukkan kedalam tubuh, dan harus menunggu selama 6 jam, mulai ada reaksi dalam tubuh namun tidak besar, sehingga akupun masih bisa berjalan keliling ruang operasi dan naik turun tangga untuk membantu proses induksi ini. Namun, ternyata selama 6 jam menunggu dari jam 2 sampai jam 8 malam, tidak ada hasil induksi yang signifikan sehingga harus ditambah lagi induksinya melalui obat yg diminum. Bismillah, Allah Maha Tahu apa yg terbaik.
Minum obat induksi yg sekecil itu ternyata memberikan dampak yg luar biasa. Setelah meminum obat dan mencoba berjalan keluar rumah sakit sambil menemani suami mencari makan, akhirnya setelah sampai di rumah sakit mulai ada rasa kontraksi yg subhanallah rasanya namun aku mencoba untuk tertidur. Semakin lama kontraksi semakin intens dan tepat pada jam 11 malem, “mak pyaar” air ketubanku pun pecah. 😱 Langsung panik dan bangunin suami, Abi yg saat itu masih di rumah pas banget nanyain keadaan aku gimana dan langsung mengabari bahwa air ketubanku telah pecah.
Setengah jam berkutat dengan kontraksi yang semakin luar biasa rasanya, pas dicek ternyata baru pembukaan 3. Ya Allah, semoga tambah lagi pembukaan karena gamau caesar 😭.
Akhirnya setelah keluargaku pun datang, aku langsung dibawa ke ruang persalinan. Umi menemani sementara suami balik ke kamar untuk mengambil barang2 yg diperlukan.
Rasanya udah kaya bener2 mau ngeden tapi terus ditahan sama para perawat yg menangani. Alhamdulillah nya setelah dicek udah pembukaan hampir lengkap dan setelah dikeluarkan cairan kemih, akhirnya dibolehkan untuk mengejan.
Setelah beberapa kali mencoba, alhamdulillah suara tangisan pun muncul. Suami pun bertakbir sambil terus menggenggam tanganku yg menjadi kekuatanku untuk terus bertahan dan tenang selama persalinan. Karena memang kunci utama dalam persalinan adalah fokus pada pernapasan sehingga sakit yg dirasakan di bawah teralihkan. The best emang suami selama proses persalinan ini 😘.
Alhamdulillah sang malaikat kecil pun hadir pukul 00.28 pada tanggal 28 Juni 2018. Alhamdulillahi rabbil alamiin. :’) Suami pun mulai mengazankan dan adik2 yg menemani pun turut berbahagia. Sang adik di Madinah pun terharu melihat lahirnya sang ponakan.
Alhamdulillah untuk persalinan kali ini, walaupun harus diinduksi 2 kali, namun Allah izinkan untuk melahirkan dengan normal. Lalu proses persalinan yg termasuk cepat juga menjadi anugerah karena bisa melewatinya dengan baik. Semua itu pastilah karena izinNya, ikhtiar dan dukungan dari semua orang terkasih.
Sampai disinilah ceritaku tentang lahirnya sang malaikat kecil ini bernama “Iltizami Ahmad Fauzi”. Semoga nanti ia menjadi anak yg senantiasa meneladani Nabi Muhammad dan komitmen terhadapnya.
Aamiin ya rabbal alamiin. 😄

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: