Married by Time – Life After Marriage 

Married by Time – Life After Marriage 

​Kehidupan yg dijalani sekarang merupakan hasil dari keputusan yg dibuat di masa lalu. 

Tak terasa 2 bulan sudah berlalu setelah ucapan akad itu dikatakan. Kehidupan yg sebelumnya serba sendiri, kini berganti menjadi serba berdua. Hal ini terjadi karena keputusan yang masing-masing kita ambil dalam menuju tahap ini.

Flashback kembali ke keputusanku untuk menikah, sebagai seorang wanita, menikah merupakan sebuah keputusan besar yang tidak hanya mengubah status mu, juga rencana hidupmu ke depannya. Terutama kami, wanita yang memiliki banyak mimpi dan berusaha keras dalam mewujudkannya.

Sedari dulu, keinginan dan mimpiku adalah langsung melanjutkan kuliah S2 setelah lulus S1, dengan target keluar negeri yang sebelumnya mimpi itu tertunda saat S1. Maka demi mewujudkan impian itu, aku berusaha keras untuk segera menyelesaikan pendidikan sarjana ku dan menyiapkan diri untuk master.

Dalam menempuh pendidikan S1 pun, aku bertekad untuk fokus menyelesaikan nya dengan cepat karena merasakan bahwa kewajiban S1 merupakan amanah dari orangtua yang telah membiayai. Maka dari itu, ketika ada tawaran untuk menikah saat menjalani S1, dengan berbekal komitmen ini aku tolak dengan maksud untuk menyelesaikan amanahku ini. Karena jujur saja, dengan kuliah yang padat dan saat itu sedang menyusun skripsi, istilah “rasanya pengen nikah aja” ga pernah muncul di benakku. Kenapa?

Karena nikah saat mengerjakan skripsi bukan solusi, namun motivasi agar cepat menyelesaikannya. 😂

Itu prinsip yang aku pegang yang mungkin bagi setiap orang berbeda-beda dan itu gapapa, karena setiap orang memiliki pandangannya sendiri mengenai kesanggupannya, dan saat itu jujur aku ga sanggup untuk menyelesaikan skripsi plus mengurus suami jika saat itu aku memutuskan untuk menikah.

Maka dari itu, sebagai seorang wanita, hendaklah kita memiliki prinsip dan komitmen yang jelas dalam diri kita yang nantinya dapat menjadi pertimbangan bagi calon pasangan nanti.

Seperti halnya keinginanku untuk lulus kuliah terlebih dahulu, dan rencana melanjutkan S2 ke depannya. Komitmen diri yang ingin terus aktif dalam berbagai kegiatan dan mengajar juga harus diungkapkan biar ditemukanlah nanti titik temu antara kedua calon pasangan. Hal ini penting diungkapkan saat proses ta’aruf atau perkenalan.

Dengan diungkapkannya hal tersebut, calon suami aku waktu itupun mempersilahkan dengan syarat agar bagaimanapun nanti aku harus tetap mendukung dan menemani dia, yang insyaAllah aku sanggupi keinginannya.

Jangan sampai karena kita sebagai wanita kodratnya manut-manut saja, sehingga apapun yang diinginkan oleh calon pasangan diikuti saja, tanpa mempertimbangkan keinginan kita. Yang ada nanti hanya membatin dan menyiksa diri karena tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan. Dalam hal ini harus diwaspadai karena kecocokan dan ke’klik’an diri untuk menikah berada pada tahap ini. Jangan sampai kita menikah dengan penyesalan. 😫

Lalu selain memiliki prinsip dan komitmen yang jelas, tentunya kita harus memiliki kepribadian yg disenangi suami nantinya.

Maksudnya gimana?

Ya dengan zaman yang modern kini dan tingginya kesetaraan jenis kelamin, membuat wanita terkadang lupa akan fitrahnya sebagai seorang istri. Seorang istri yang memiliki tugas utama melayani suami.

Well, setelah berbagai seminar pra nikah yang aku ikuti, memang tugas seorang istri ya cukup melayani dan menyenangkan suami nya, hal-hal lain seperti mencuci, menyetrika dan berbagai pekerjaan rumah tangga lainnya merupakan bentuk khidmat kita kepada suami.

Dengan hal inilah, kepribadian seorang istri ditentukan, ingin menjadi istri seperti apakah kamu? 

Setelah menikah, baru kusadari bahwa diriku yang kini memiliki status sebagai seorang istri sedikit demi sedikit berubah..

Bukan berubah secara drastis, namun fokus yang dulu begitu sentral kepada diri sendiri kini bercabang kepadanya, yap kepada suamiku.

Seperti nanti dia sarapan pakai apa, baju yang mau dipakai apa, barang apa saja yang perlu disiapkan dan berbagai hal lainnya yang semuanya harus kusiapkan untuknya.

Sensor untuk bersih-bersih pun seolah2 aktif kembali dengan rajin pagi-pagi udah nyapu, ngepel dan berbagai kegiatan rumah lainnya yang diakhiri dengan menyiapkan sarapan untuknya setelah sebelumnya menyiapkan minuman pembuka di pagi hari yang biasanya kami menyebutnya ‘coffee morning’ walaupun kadang minumnya pake teh atau susu. Wkwk

Kegiatan masakpun menjadi hal yang menyenangkan karena ingin senantiasa memberikan asupan yang terbaik untuk suami dan mengharapkan wajah puasnya saat menikmati hidangan yang disiapkan. Cabe yang sebelumnya menjadi musuh terbesarku kini harus aku temui setiap hari untuk membuat sambal yang wajib menemani setiap hidangannya. 😌 Well, sebuah kemajuan bukan? Hehe

Ya aku pikir inilah hal yang utama terjadi dalam kehidupanku setelah menikah, yang mungkin juga akan terjadi kepada kamu nantinya. Kepribadian inilah yang nantinya akan muncul seiring kehidupan pernikahan ini.

Untuk ceritaku yang setiap hari bertemu dengan suami mungkin akan berbeda dengan mereka yang mungkin harus terpisah jarak dan waktu, namun hal itu bukan menjadi sebuah alasan yang harus dipermasalahkan, karena masing-masing kita diberi ujian sama Allah.

Aku yg setiap hari ketemu mungkin harus bersyukur dengan segala hal yang kita lakukan bersama dan mereka yang LDR harus bersabar dengan penantian yang ada. Nah bersyukur dan bersabar itulah ujian dan pilihan yang harus kita jalani dan dari inilah kepribadian seorang wanita ditentukan, akankah ia bersyukur dengan senantiasa bahagia melayani suaminya, atau bersabar dengan terus mendukung suaminya walaupun terpisah jarak.

Jadi, kembali lagi hal ini kepada pilihan kita, terutama keputusan sebenarnya ada pada wanita. Maka kenapa wanita butuh kepastian? Karena kepastian inilah yang akan memudahkan kita untuk membuat keputusan. Ya kan?

Dengan fenomena inilah kenapa wanita lebih mudah untuk termakan janji manis, karena janji manis adalah awal dari sebuah kepastian yang dapat membuat wanita memutuskan untuk terus menunggu dan berharap ataupun memutuskan dan meninggalkan.

Alhamdulillah dengan kepastian tersebut inilah yang membulatkan keputusanku untuk menikah.

Menikah dengannya bukan berarti aku memutuskan mimpiku, karena ternyata ia menikahiku karena ingin bersama mewujudkan impianku.

Menikah dengannya bukan berarti aku menunda melanjutkan pendidikan master ku, karena ternyata ia menikahiku untuk dapat mendukungnya meraih gelar tersebut terlebih dahulu agar aku dapat mewujudkan mimpiku yang sempat tertunda seiring menemaninya.

Dan menikah dengannya bukan berarti aku hanya menjadi seorang istri, karena ternyata ia menikahiku agar aku dapat menjadi seorang istri yang dapat mendidik dan terus aktif dalam kegiatan di masyarakat yang ia dukung sepenuhnya.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal, aku menikah dengannya, dan ia memilihku yang tentunya dengan bimbinganNya lah kami dapat bersama.

So, kehidupan setelah menikah merupakan sebuah petualangan baru yang harus dilalui, dengan proses saling mengenal dan mengembangkan potensi masing-masing membuat hidup menjadi lebih bermakna. Karena menikah adalah ibadah, dan apa yang dijalani di dalamnya merupakan sebuah proses menuju ketaatan kepadaNya.

Jadi, kapan lulus skripsinya? 😝

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: