Married By Time – Mengenalmu 

Married By Time – Mengenalmu 

Sejatinya menikah merupakan sebuah langkah dari mengetahui untuk mengenal…. 

Kalo dibilang aku udah ‘tau’ suamiku dari SD yang masih polos sebagai anak pindahan dan teman sekelasnya sejak 15 tahun lalu. Namun ternyata aku baru ‘kenal’ dia saat kuliah sampai akhirnya ‘mengenal’ nya lebih dalam saat memutuskan untuk menikah dengannya. 

Baca : Married by Time – Prolog 

Mungkin dulu sebelum memutuskan untuk menikah ada namanya proses ta’aruf sebagai sebuah proses untuk mengenal calon dengan baik melalui tanya jawab oleh masing-masing pihak. Dari proses ta’aruf inilah akan ditentukan kecondongan kita untuk melanjutkan proses ini ke tahapan selanjutnya. Maka saat ta’aruf, walaupun aku udah tahu suamiku dari lama, tapi nyatanya aku hanya tahu hal umum darinya, belum visi misi ia menikah, harapan dalam pernikahan, pembagian peran dan tanggung jawab dan hal lainnya yang akan menjadi gambaran seperti apa dia nanti saat kita menikah. 

Pertanyaan dari setiap calon yang ta’aruf pasti bervariasi, tergantung masing-masing keadaan. Namun ada beberapa saran pertanyaan dari Mba Annisa Stevia yang bisa dijadikan acuan ketika ingin mengenali calon pasangan lebih lanjut, cus langsung aja ke blog nya disini. 

Sebelum ta’aruf, hal yang aku ketahui dari suamiku adalah bagaimana sikapnya ke ibunya dan bagaimana ia saat marah. Dulu juga yang menjadi pertimbangan Abi untuk menerimanya adalah dari kedua hal ini. Karena sederhananya, ketika memilih calon suami adalah dari bagaimana perlakuannya ke wanita, terutama ibunya. Ketika ia terlihat baik hubungan dengan ibunya, insyaAllah ia akan memperlakukan istrinya seperti itu pula. Begitupun saat ia marah, laki-laki ketika marah yang dilihat adalah bagaimana sikapnya. Ketika ia marah dan melakukan perlakuan fisik sebagai pelampiasannya, maka hindarilah calon suami yang seperti itu jika kamu tidak siap memiliki suami yang marah dan ‘main tangan’.

Alhamdulillah, berbekal pengalaman saat kontak dengannya dulu dan dari keluarganya, akupun tahu bahwa suamiku dulu memenuhi 2 kriteria tersebut. Setelah menikah, akupun baru tahu kalau ternyata sikapnya tersebut karena ia mendengar pesan seorang guru yang mengatakan padanya bahwa ketika menyayangi seorang wanita, maka sayangilah satu saja dan perlakukan ia dengan baik sebagaimana kamu memperlakukan ibumu. Daaan… Alhamdulillah wanita itu ternyata aku. :”))

Lalu, ketika ijab qabul telah diucapkan dan diserahkannya aku kepada suamiku oleh Abi menjadi momen dibukanya pintu yang selama ini menghalangi kami untuk saling mengenal lebih dalam. Ya, kini aku akan mulai mengenal dia sebagai suamiku.

Dan proses mengenal ini tentu tidak mudah, yang dulu mungkin aku hanya melihat sisi baiknya dia, setelah menjadi suami ternyata ada sisi lain yang bisa membuatku kaget ataupun heran dengan sifat tersebut yang ujung-ujungnya pasti aku bakal bilang, “wah, ga nyangka nih ternyata kamu begini” dan begitu pula dia dengan sifatku yang kadang bikin geleng-geleng kepala. Wkwk

Ternyata, seberapa lamapun aku tahu dia, tidak akan menjamin bahwa aku sepenuhnya mengenalnya. Maka, mau berapa lama kalian pacaran, kenal, ataupun sama sekali belum pernah tahu calon mu sebelumnya, tenang. Saat menikah, semua hal yang terjadi sebelumnya akan otomatis berubah menjadi sebuah lembaran baru yang akan diisi bersama.

Alhamdulillah, ternyata tepat hari ini tanggal 10 September 2018, aku sudah mengenal suami selama 1 tahun. Mengenal sosoknya sebagai seorang suami dan ayah yang ternyata selama ini aku butuhkan.

Mungkin 1 tahun masih terlalu singkat untuk mengenalnya, karena Umi selalu bilang bahwa pernikahan itu akan dilihat setelah 10 tahun bersama, maka jangan heran ketika baru menikah akan terlihat momen indah saja dari pasangan, karena memang itulah saatnya. Coba nanti setelah 10 tahun, akankah sama seperti itu?

Maka, bismillah, dengan dilaluinya 1 tahun ini, aku harap bisa terus membersamainya dalam senang maupun sedih. Terutama karena kami berdua seumuran maka harus lebih menguatkan diri dan menurunkan ego masing-masing. Tizam yang kini berada di antara kamipun merupakan sebuah anugerah untuk kami agar dapat senantiasa memaksimalkan peran sebagai orangtua. Walaupun secara pribadi aku kaget dengan berbagai hal dari Tizam, tapi bismillah karena insyaAllah dengan suami motherhood ini bisa kujalani.

Baca: Ibun’s Story – The Sensation 

Jadi, memang benar, janganlah menikah untuk bahagia karena pasti kamu akan kecewa ketika hidup dengannya ternyata tak seindah yang dibayangkan. Namun menikahlah untuk tenang, karena sesungguhnya menikah adalah jawaban dari Allah untuk setiap hati yang risau akan cinta yang tidak halal.

Dan setelah menikah, jangan pernah berhenti untuk mengenal pasanganmu. Karena kamu menikah untuk menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Masing-masing kamu bukanlah manusia sempurna. Terakhir, dalam mengenal jangan lupa untuk senantiasa berkomunikasi, pasanganmu bukanlah manusia super yang bisa telepati dan mengetahui apa yang kamu pikirkan. Jangan lelah untuk terus berusaha menjaga hubungan dengan pasanganmu karena dengannya lah kamu hidup. #selftalk

Everything that’s meant to be it will be

Ps. Tulisan ini juga di dedikasikan kepada temanku dan temannya temanku yang menikah pada hari ini, 2 orang sahabat yang ternyata berjodoh :’) Selamat mengenal diri pasangan kalian ya. Barakallah wa baraka ‘alaikuma wa jama’a baynakuma fil khoir, Agnes Merdekawati dan Braniyodi Wibawa. 🙂

With love,
Ibun yang berusaha mengetik di kala Tizam istirahat pasca imunisasi
yang kuat ya nak :’)
 

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: