Married by Time – Prolog

Married by Time – Prolog

 “Ai, percaya sama Abi, bahwa cinta itu akan indah pada saatnya dengan orang yang tepat.”

Mendoakanmu adalah Caraku untuk Memelukmu dari Jauh

Begitu pesan Abi yang selama ini selalu membayang-bayangiku. Dimana pada saat ia mengetahui ketertarikanku kepada seorang laki-laki yang semula kukira akan membuatnya marah, ternyata berkebalikan. Beliau justru menasihatiku dengan lembut dan memberikan pemahaman akan makna cinta yang sebenarnya, seperti saat ia bertemu dengan wanita yang menjadi Umi ku saat ini.

Berbicara tentang cinta, sepertinya telah lama kumaknai hal itu dengan berbagai cara, jujur, jika untuk masalah pacaran aku belum pernah pacaran seperti kebanyakan orang, karena entahlah, ketika berpacaran seperti itu rasanya tidak nyaman. Maka selama ini aku berpacaran hanya melalui media sosial. Selama ini makna cinta yang sebenarnya baru kusadari saat akhirnya aku bertemu kembali dengan seorang laki-laki yang menjadi teman lamaku. Pertemuan itu tidak disengaja karena pada saat itu kami berada dalam sebuah proyek yang sama. Pertemuan pertama yang selalu kami ingat dan menjadikannya seolah-olah sebagai hari jadi kita, yang kalo dihitung dengan tahun ini sudah melewati tahun ke 3.

Sebut saja namanya Ueki. Seorang lelaki yang selama ini menyukaiku sejak pertama kali kami bertemu saat bersama-sama duduk di Sekolah Dasar. Takdir mempertemukan kami kembali saat kami bersama-sama duduk di bangku SMA dan lulus bersama. Saat ini ia berada di negeri nun jauh disana untuk menuntut ilmu, beribu kilometer jauhnya dariku. Jujur, perasaan ini untuknya masih kusimpan, walaupun kini kami memutuskan untuk fokus kepada kehidupan kami masing-masing.

Sungguh godaan syetan itu bisa datang darimana saja. Untuk masalah cinta, sebenarnya kami berdua telah saling memahami bagaimana hukumnya, bahwa cinta seorang Muslim hanyalah kepada PenciptaNya semata. Maka dalam hal ini sebenarnya kami berdua telah sama-sama paham akan hukum dan konsekuensi dari hubungan ini. Namun entahlah, cinta membuat seseorang menjadi buta dan tuli, dan inilah kisah antara kami berdua yang insyaAllah pilihan yang telah kami buat merupakan jalan menuju RidhoNya.

Ueki yang selama ini aku kenal merupakan sosok yang cerdas dan pendiam. Untuk rupanya, ia bisa dibilang cukup tampan sehingga banyak teman-temanku yang tertarik padanya, tak terkecuali aku. Disini kami berada di lingkungan Pondok Pesantren yang memisahkan lingkungan laki-laki dan perempuan. Begitupula dalam berkomunikasi, hanya yang memiliki mahrom lah yang dapat bertemu. Maka bermula dari keterbatasan inilah yang pada saat akhirnya mempertemukan kita, di akhir kelas 3 SMA. Singkat cerita, Ueki yang selama ini terkenal sangat jauh dari kabar kedekatannya dengan akhwat, akhirnya bisa dekat denganku karena proyek yang sedang kami kerjakan yang membuat kami akhirnya bertemu langsung secara pribadi, pada 29 Desember 2012. Hari bersejarah kami.

Bermula dari itulah kami membuat janji, dimana apabila nanti sebelum lulus, kami akan berkompetisi untuk nilai UN bahasa inggris, barangsiapa yang dapat nilai lebih tinggi. Untukku, dia menantang agar aku bisa mengalahkan sang juara umum di IPS dalam Try Out dan untuknya, aku tantang agar ia bisa menyelesaikan hafalan Qurannya. Maka bismillah, perjanjian itu kami jalani. Pada akhirnya, akupun bisa memenuhi janjiku karena nilai UN bahasa Inggris ku lebih tinggi dan aku bisa mengalahkan sang juara umum, yang berarti dia kalah karena belum bisa memenuhi janjinya. Namun ternyata janji yang terucap beberapa tahun lalu pada akhirnya dapat ia penuhi.

Sejak saat itu kami menjadi akrab dan sering berhubungan melalui sosial media, sekedar menanyakan kabar atau hanya ingin meminta pendapat. Sampai pada suatu hari saat aku tak sengaja mengatakan sesuatu yang membuatnya mengakui perasaannya. Jujur saja, selama ini yang kuketahui bahwa Ueki sedang dekat dengan seseorang dan akupun belum ada perasaan padanya. Namun pada saat ia mengakuinya, entahlah perasaanku kacau, karena ia mengakui saat pertama kali kami bertemu saat Sekolah Dasar itulah saat pertama kali ia menyukaiku dan itu tidak berubah sampai saat ini. Perasaan haru pun terjadi, karena selama ini aku telah menyukai beberapa laki-laki sebelumnya, namun ternyata selama 10 tahun perasaannya untukku tidak berubah. Hal yang ku sesali, kenapa selama ini hal itu tidak kusadari?

Saat mengetahui perasaannya, akupun pada akhirnya mencoba untuk membalas perasaan itu, memberinya perhatian dan menyemangatinya saat ia sedang terpuruk. Karena jarak yang memisahkan, maka hanya melalui media sosial lah kami dapat terhubung. Ueki merupakan seseorang yang tertutup sehingga saat hubungan kami mulai jelas, ia mulai banyak cerita tentang dirinya dan bagaimana keadaannya disana. Wajar saja jika dia banyak mengeluh karena keadaan di Afrika sungguh sangat berbeda dengan Indonesia. Karena keterbukaannya ini padaku, akupun merasa nyaman karena ia berbicara apa adanya dan aku menjadi orang pertama yang dapat menjadi tempatnya bercerita.

Maka hubungan kamipun berlanjut hingga beberapa bulan lamanya. Tahun ini merupakan tahun keduanya ia berada di negeri orang, Afrika. Ia banyak mengirimkan gambar dan video tentang bagaimana kehidupan dia disana yang membuatku ikut merasakannya. Pernah beberapa kali kami berbincang melalui telepon dan berbicara hingga berjam-jam lamanya bercerita tentang apa saja. Sungguh indahnya saat-saat itu, dimana kami merasa bahwa dunia ini milik kami berdua dan tidak ada seorang pun yang mengetahui. Namun sesungguhnya Allah Maha Mengetahui dan para syetan pun bersuka cita melihat keadaan kami yang dimabuk cinta.

Ueki merupakan seseorang yang kaku dan cuek, berkebalikan denganku yang ceria dan peka. Sehingga dalam hal apapun aku sering mengajaknya untuk tidak kaku dan lebih rileks dalam apapun. Hingga suatu hari aku begitu terkejut saat mengetahui bahwa ternyata pada saat ulang tahunku yang ke-19 ia mengirimiku sebuah hadiah dari sana yang ternyata selama ini tidak ku ketahui. Sebelumnya, pada saat ia ingin berangkat untuk merantau ke negeri orang, aku memberikannya beberapa hadiah yang dimaksudkan untuk mewakiliku karena aku tidak bisa mengantar kepergiannya karena UTS. Tak kusangka ternyata ia membalasnya dengan mengirimkan sebuah hadiah yang ia beli jauh-jauh dari sana dengan semua tabungan yang ia simpan hanya untukku. Ueki yang selama ini terlihat kaku, ternyata sampai begitu usahanya hanya untukku.

Hal yang membuatku sangat terharu adalah usahanya untuk melakukan yang aku inginkan. Pada saat itu sebenarnya Ueki sedang berada di tempat menghafal Al-Quran disana dan jarang memiliki sinyal. Maka pada saat ulangtahunku, akupun menunggu akan ucapannya. Namun beberapa hari kutunggu ternyata tak satupun ucapan dan kabar darinya kudapat. Apa dia lupa? Bagaimana bisa orang yang ia sayangi ia lupakan hari lahirnya? Begitu pikirku saat itu. Sempat kecewa karena ia tidak ada pada saat ulang tahunku. Namun ternyata saat aku tanyakan pada temannya bagaimana keadaannya iapun langsung menghubungiku dan memintaku mengecek sesuatu di asrama. Ternyata paket yang selama ini telah ia kirim untukku telah sampai pada hari ulangtahunku namun tak kuambil karena aku tak mengetahuinya. Sungguh terharu pada saat kubuka paketnya ternyata yang ia kirimkan adalah sebuah tas khas dari sana disertai dengan 2 buah foto. Satu foto berisi tentang ucapan dan doanya kepadaku yang ia tulis begitu panjangnya, karena selama ini ia selalu bilang bahwa ia tidak bisa menulis, maka pada saat itu terlihat bahwa ia berusaha dengan keras untuk dapat menulis.

Sedangkan foto yang lainnya berisi sebuah gambar yang terdapat tulisan tangannya, yang tertulis, Mendoakanmu adalah caraku memelukmu dari jauh. Tangisku pun pecah karena selama ini ia tidak pernah mengatakan perkataan manis padaku, namun ternyata melalui doalah semua itu ia ungkapkan. Maka pada saat itu aku langsung memintanya menelponku dan tak henti-hentinya aku menangis dan memarahinya karena ia tak memberitahuku selama ini. Ueki pun hanya dapat mendengarku dan tertawa kecil saat aku memarahinya. Karena akulah ia bisa seperti itu. Ueki..

Setelah kejadian itu hubungan kamipun semakin erat dan lebih intens, sehingga mulai tercium oleh orangtuaku. Berawal dari tidak disengaja nya perkataan adikku tentang hubunganku dengan Ueki. Maka pada saat itupun aku takut orangtuaku akan memarahiku karena mereka berdua termasuk orang yang sangat paham akan agama. Namun ternyata mereka menanggapinya dengan tenang. Saat inilah aku merasa bahwa orangtuaku merupakan orangtua yang paling baik sedunia, dimana mereka begitu menyayangi anaknya dan sangat bijak dalam mengambil keputusan.

Pada saat itu Abi bertanya padaku tentang hubunganku dengan Ueki, akupun tak ingin menjawabnya karena merasa malu. Maka Abi pun hanya menjawab, bahwa tidak apa-apa jika tidak ingin bercerita karena itu merupakan hakku, namun ia hanya berpesan bahwa aku harus menjaga hati dan jangan sampai terlalu terlena. Karena cinta yang aku rasakan sekarang menurut Abi bukanlah cinta yang seharusnya. Abi bilang bahwa ia membebaskanku untuk menyukai siapapun, namun hendaklah aku menjaganya sampai pada saat yang tepat. Dimana aku merasa sudah siap untuk mempertanggung jawabkan perasaan itu dengan pernikahan. Maka pada saat itupun aku merenung. Bahwa selama ini hubunganku dengan Ueki bukanlah hubungan cinta yang sebenarnya, dimana semua nasihat, motivasi dan pemberian yang saling kami berikan belum pantas untuk kami lakukan saat ini, karena hubungan antara kami berdua belum ada ikatan yang diridhoiNya.

Maka akupun akhirnya mencoba untuk berbicara dengannya. Awalnya Ueki menerimanya dan mencoba untuk tidak menghubungiku lagi, tapi ternyata karena ia belum bisa menemukan orang yang tepat untuk ia ceritakan, maka iapun kembali menghubungiku. Sehingga kamipun berkontakan lagi. Hal itu terjadi terus menerus dimana saat aku mencoba memutuskannya dan memintanya untuk mencoba mencari orang lain yang mungkin bisa membuatnya nyaman namun ternyata akhir-akhirnya kita kembali berhubungan. Ya Allah, saat itu aku sadar bahwa Allah sedang mengujiku, apakah aku mampu menjaga hatiku ini. Karena pada saat itu, iapun pernah memintaku untuk menunggunya kembali namun aku tolak karena aku tidak bisa menunggu sesuatu yang belum pasti.

Pada saat itu akupun sempat tergoda lagi karena ternyata akulah yang menjadi motivasi terbesar untuknya, dimana setiap hal yang ia lakukan ia selalu teringat akan pesanku. Sampai pada dimana ia meminta izin kepadaku untuk pergi ke tempat menghafal untuk menyelesaikan hafalannya dan memenuhi janjinya yang sebelumnya tak sempat ia penuhi. Dan Alhamdulillah, pada akhirnya ia dapat memenuhi janjinya untuk menyempurnakan hafalan Qurannya dan membuatku amat senang.

Namun pada akhirnya, setelah sekian lama hubungan kami menemui sebuah titik jenuh, akhirnya iapun berusaha melepasku. Hal yang selama ini aku inginkan darinya, dimana aku menunggunya untuk melepaskanku lebih dahulu. Maka bismillah, pada akhirnya kamipun berusaha untuk menjalani kehidupan kami masing-masing dengan tujuan menggapai ridhoNya. Bukankah indah jika ternyata Allah mempertemukan kami kembali melalui doa-doa yang kami ucapkan? Ataupun jika pada akhirnya kamipun tidak dapat bersama, bukankah indah jika ternyata kami dapat saling menjaga hati kami untuk orang yang lebih baik untuk kita nanti? Karena yakinlah bahwa manusia dicipta saling berpasang-pasangan dan orang baik akan bersama dengan orang baik begitupula sebaliknya. Maka lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, dimana Allah Maha Pengampun dan senantiasa mengetahui apa yang terbaik bagi hambaNya. Subhanallah wa ni’man wakiil.

Tulisan ini merupakan sebuah cerita di masa lampau yang kutulis untuk perlombaan menulis buku tentang hijrah yang diselenggarakan oleh LDK kampus ku. Alhamdulillah tulisan ini lulus seleksi dan menjadi salah satu cerita yang dibukukan. Tak kusangka ternyata kisah ini menjadi prolog dari hidupku bersamanya kini. Kembali lagi aku diingatkan bahwa everything that’s meant to be it will be. 

0 thoughts on “Married by Time – Prolog

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: