Married By Time 

Married By Time 

Setelah lulus mau ngapain?

Idealnya seperti yang aku katakan di post sebelum-sebelumnya bahwa rencanaku setelah lulus adalah Master Dream Plan. Menyiapkan segala persiapan untuk melanjutkan studi S2 di luar negeri. Namun, siapa sangka, dengan segala kematangan perencanaan yang ada, rencana Allah lebih indah.

Setelah lulus, beberapa bulan setelah wisuda, aku menikah.

Yap, wisuda di bulan Juli, bulan September 2017 akupun menikah.

Tepatnya di tanggal 10 September 2017.

Sebuah keputusan yang benar-benar diluar perkiraanku karena untuk menikah, aku menargetkan untuk menikah di usia 23, namun waktu yang tepat hanya Ia yang Tahu.

Keputusan menikah pun aku ambil dalam waktu yang singkat namun sudah kupikirkan sebelumnya. Maka dari itu, setelah wisuda, proses dari  taaruf (perkenalan), khitbah (lamaran) sampai akad pun dilakukan dalam kurun waktu tidak sampai 2 minggu. Well, everything that’s meant to be, it will be. Aku sendiri masih ga nyangka bisa nyiapin sebuah pernikahan dalam waktu sesingkat ini. Tapi aku yakin, pastinya semua ini tidak akan terjadi tanpa izin dariNya.

Married by Time

Sebuah judul yang menurutku paling tepat untuk menggambarkan kondisi pernikahanku. Iya, aku menikah dengan seseorang yang telah lama ku kenal, namun saat kembali bertemu semuanya terasa seperti asing kembali.

Aku menikah dengan seseorang yang kukenal lama, namun waktu yang mempertemukan kami, tanpa kami tahu bahwa inilah saatnya.

Mengenalnya pun sudah sejak SD kelas 3 dalam pertemuan singkat selama satu tahun yang akupun tak pernah menyadari keberadaannya.

Singkat cerita, kami bertemu kembali saat Aliyah kelas 3 yang menjadi titik awal kedekatan kami.

Namun, siapa sangka, perjalanan cinta yang tidak di ridhoiNya pastinya tidak akan berkah.

Berbagai perasaan tidak nyaman dan keresahan yang dirasakan seiring hubungan kami yang melalui sosial media serta dengan jarak antar negara membuat kami memutuskan untuk fokus kembali pada kehidupan kami masing-masing.

Awalnya pasti berat.

Siapa yang tidak berat meninggalkan seseorang yang sebelumnya pernah hadir dalam kehidupan kita? Namun lebih berat lagi meninggalkan perasaan tenang yang dirasakan saat RidhoNya menghampiri.

Maka, bismillah, cerita tentang kami sudah menjadi history yang kukenang sejak akhir tahun 2016.

There will only be two possibilities, we will share our stories again in the future, or I’ll keep our memories as a lesson to be learned 

Untuk masalah jodoh, jujur dari dulu dalam bayanganku, serta dengan paradigma yang ada dalam kehidupan di sekitar ku, rata-rata jodoh yang diinginkan adalah mereka yang baru dikenal, atau yang dikenalkan. Lebih umumnya adalah menemukan jodoh lewat ta’aruf. 

Dengan gambaran ta’aruf dan pacaran setelah menikah yang indah membuatku juga ingin merasakan hal yang sama, dengan berandai siapakah jodohku nanti yang akan kukenal setelah menikah?

Namun ternyata pengertian ta’aruf yang kumengerti terlalu sempit. Mengenal ini bukan berarti benar-benar baru mengenal dia yang hanya sebatas melalui CV. Di zaman sekarang, CV pun bisa kita lihat melalui media sosialnya ataupun informasi melalui kerabat dan sumber terpercaya lainnya. Jadi ya intinya, CV zaman sekarang bisa dilihat dari berbagai hal, tidak hanya dari secarik kertas dan selembar foto full body.

Inilah yang membuatku sempat ragu dengan keputusan menikah dengan teman yang sebelumnya sudah kukenal.

Bagaimana jika ternyata dia tidak sama dengan apa yang selama ini aku tahu?

Bagaimana jika ternyata nanti aku jenuh karena telah mengetahui sifat dan kepribadiannya?

Bagaimana pandangan orang-orang akan kami yang menikah karena telah lama mengenal sebelumnya?

Well, semua pikiran ini aku adukan kepada orangtuaku dan juga padaNya.

Alhamdulillah, perkataan dari Abi yang membuatku tenang akan pilihan ini.

“Jika memang kamu sudah mengenalnya, maka alangkah baiknya apa yang sebelumnya kalian ketahui menjadi pembelajaran bagi kalian untuk ke depannya. Kekurangannya kamu perbaiki dan kelebihannya kamu tingkati. Masa lalu yang ada, akan menjadi prolog dalam kehidupan pernikahan kamu, karena menikah itu mau siapapun kamu menikah akan membuka lembaran baru, dan cerita kamu nanti setelah pernikahan akan menjadi bab selanjutnya dalam kehidupan kamu ke depannya, yang pastinya prolog sebelumnya akan kamu baca kembali.”

Deg.

Perkataan Abi membuatku tersadar bahwa masing-masing orang memiliki cerita pernikahannya sendiri dan semua orang diberikan sama Allah apa yang mereka butuhkan, bukan yang mereka inginkan.

Aku ingin menikah dengan seseorang yang belum kukenal, namun ternyata Allah memberikanku jodoh yang sudah kukenal dan aku yakin inilah yang terbaik untukku. Bismillah.

Maka dengan berbekal pengetahuan dan bimbinganNya sebagai jawaban atas istikhoroh ku.

Jika memang Ia yang terbaik, maka mudahkanlah ia dalam segala urusannya. Jika bukan ia, maka berikanlah yang terbaik untuk masing-masing kami. 

Alhamdulillah, setelah beberapa bulan sebelumnya ia mengabari mentor ku akan niatnya menikahiku dan telah direstuinya niat kami oleh kedua belah pihak keluarga, maka pada saat tanggal 27 Agustus ia pun pulang ke Indonesia dan disitulah semuanya dimulai.

Merupakan hal yang tidak mungkin jika dipikirkan oleh akal akan sebuah pesta pernikahan di suatu tempat dengan persiapan selama 2 minggu. Tapi ‘ala kulli hal, kun fayakun, apa yang terjadi, terjadilah atas kehendakNya.

Dalam mengurus surat pernikahan kamipun terdapat berbagai hal yang harus dihadapi, mulai dari surat izin numpang nikah, karena kami akan menikah di Depok, sedangkan aku dari Bangka dan dia dari Bekasi.

Lalu, pendaftaran menikah di KUA yang jika normalnya maksimal 10 hari harus mengurusnya dan kami baru mengurusnya 7 hari karena terpotong libur Idul Adha, serta penghulu yang baru bisa hadir pukul 12 siang.

Kemudian, lokasi pernikahan yang alhamdulillah bisa didapatkan dengan waktu yang pas serta fasilitas yang cukup padahal seharusnya memesan harus dari 3 bulan sebulannya.

Sampai baju pernikahan yang baru didapatkan beberapa hari sebelum hari H yang alhamdulillah semuanya dimudahkan dan diizinkan olehNya untuk dilancarkan.

Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin.

Memang tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika sudah menjadi kehendakNya, dan pernikahanku merupakan salah satu bukti kekuasaanNya.

Maka, Married by Time merupakan sebuah keputusan yang sesuai dengan waktuNya, waktu yang telah Ia tentukan untuk kami bersama. Reunite jika dibilang mah. Tapi reunite ini lebih bermakna, karena kami bersama dalam ikatan yang halal, serta dengan niat dan tujuan insyaAllah kepadaNya.

So, mau gimanapun rencana kamu, believe me, rencanaNya pasti lebih indah, siapin aja rencana kamu biar nanti Dia yang tentukan 😉
P.S: saksiin keseruan flash wedding kami di bawah ini 😀 Selamat menyaksikaan~~

 

0 thoughts on “Married By Time 

  1. baarokalloohu laka wa baaroka ‘alaika wa jama’ baina kumaa fie khoirin. semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: