Master Dream Plan – Teaching for Experience 

Master Dream Plan – Teaching for Experience 

Setelah belajar, keutamaan yang harus dilakukan adalah mengajarkannya. 

Alhamdulillah, sudah terhitung 6 bulan setelah aku resmi wisuda S1 dan selama itu pula aku sudah mengabdikan ilmuku kepada yang lainnya di sebuah sekolah di kampung halamanku.

Benar apa kata pepatah, merantaulah dan tuntutlah ilmu disana karena nantinya kamu akan kembali ke tempat kamu bermula dan mengabdikan dirimu disana. Alhamdulillah ‘ala kulli hal semua ini terjadi.

Sudah 10 tahun aku meninggalkan kampung halaman untuk merantau, mulai dari SMP dan SMA di sebuah Pondok Pesantren di Kuningan, Jawa Barat, hingga kuliah di Cikarang, Bekasi. Pada akhirnya perjalananku harus kembali pulang ke Bangka, tepatnya di Mentok, Bangka Barat.

Setelah lulus pastinya masing-masing lulusan akan menentukan langkah hidup mereka selanjutnya, 90% diantaranya menjadi job seeker, entah itu bekerja di suatu perusahaan, institusi pemerintah, ataupun menjadi tenaga pengajar sepertiku. Ya memang realita setelah lulus kuliah adalah menempatkan diri kita di suatu posisi dimana gelar kita nanti akan dipakai, dan aku memilih menempatkan gelarku sebagai pendidik bahasa inggris di satu-satunya SMPIT yang baru dibangun 2 tahun lalu di daerahku.

Semenjak 10 tahun berada jauh dari rumah, membuatku takjub dengan segala perubahan yang ada, terutama dengan modernisasi dan pesatnya perkembangan pendidikan yang ada di daerah ini. Termasuk dengan berdirinya SDIT dan SMPIT yang merupakan sebuah konsep sekolah Islam yang baru di daerahku. Maka setelah lulus, akupun memutuskan untuk melamar sebagai guru disana dan alhamdulillah diterima dengan baik. Dengan jarak rumah dan sekolah yang lumayan jauh dan harus ditempuh dengan perjalanan mobil selama 1 jam, maka waktu mengajarku hanya 2 kali dalam seminggu, yang itupun dipadatkan jadwalnya sampai sore. Setelah mengajar formal, akupun diberi amanah untuk mengajar English Club sebagai ekstrakulikuler.

Dan alhamdulillah nya, setelah menikah, mungkin karena inilah rezeki yang diberikan bagi mereka yang menikah, akupun bisa menambah waktu mengajarku dan tidak perlu bolak-balik dari rumah ke sekolah karena kami memutuskan untuk tinggal di Muntok, walaupun hanya saat mengajar saja, yaitu pada hari Minggu – Rabu, karena Minggu nya ada les di rumah. Lalu, Kamis sampai Sabtu suamiku mengajar di pondok pesantren tahfidz khusus laki-laki yang berada di Teluk Limau, yaitu di ujung pulau Bangka. Ya, seperti itulah kehidupan kami setelah menikah yang sangat tinggi mobilitasnya, karena harus bolak balik dari satu kecamatan ke kecamatan lain yang subhanallah rutenya. Hehe. Alhamdulillah nya kini berdua jadinya bisa saling mendukung.

Nah, berbicara tentang mengajar, pastinya memiliki cerita sendiri karena berhadapan dengan murid-murid, terutama murid SMP yang merupakan masa peralihan dari bocah SD ke jenjang yang lebih tinggi, yang pastinya membutuhkan kesabaran dan metode yang sesuai. Maka dari itu, dari mengajar inilah aku menemukan berbagai sifat dan perilaku anak-anak SMP yang kadang bahagia, kadang juga mengelus dada. Hehe. Karena di SMPIT, maka murid laki-laki dan perempuan pun dipisah, ketika aku mengajarpun diberi kesempatan untuk mengajar keduanya.

Memang yang namanya perbedaan gender itu sungguh berbeda sehingga sebenarnya tidak bisa disetarakan, makanya jika memaksa untuk menyamaratakan gender, sungguh merupakan suatu perilaku yang tidak adil terhadap manusia itu sendiiri. Kenapa begitu? Karena sebagai seorang guru yang diberi amanah untuk menyampaikan ilmunya kepada murid, dan disini kasusnya murid laki-laki dan murid perempuan, maka harus dilakukan dengan metode khusus. Seperti pendekatan dan sikap yang diberikan. Jika perempuan mungkin akan cukup ketika diberi penjelasan yang sederhana walaupun terkadang harus mengulangnya beberapa kali, sehingga ketika diuji kembali harus benar-benar dibimbing. Berbeda dengan lelaki, mereka kadang dalam penjelasan membutuhkan penjelasan yang singkat dan langsung to the point dan ketika diuji pun mereka bisa melakukannya namun harus ditunggu sampai mood mereka datang, karena sesungguhnya murid laki-laki ketika selesai diberi penjelasan, mereka akan kembali melakukan aktifitas masing-masing (baca: lari-lari, main, bercanda) yang harus aku siasati dengan meminta pengertian mereka.

“Ustadzah hanya minta waktu kalian 40 menit, setelah itu kalian bisa istirahat dan bisa melanjutkan kembali untuk latihan soal.”

Ya walaupun jadinya mereka menghitung-hitung setiap menit, detik yang ada, namun setidaknya dengan pemberian waktu tersebut mereka dapat fokus mengikuti pelajaran. Ya dibanding dengan aku ngomel-ngomel dan memarahi mereka satu-satu karena tidak mau disiplin. hehe

Begitulah lika-liku menjadi tenaga pengajar. Dimana pastinya tidak hanya ilmu yang disampaikan, namun juga nilai dan akhlak Islami yang harus senantiasa diterapkan. InsyaAllah dengan menjadi guru, aku dan suami menjadi semakin mengerti akan kebutuhan anak-anak zaman kini dengan permasalahan yang ada, buat nantinya ditelaah kembali dan disesuaikan sehingga menjadi sebuah metode pendekatan yang sesuai dalam sistem pendidikan nanti.

Selain mengajar sebagai sebuah pengalaman, niat dari mengajar ini merupakan sebuah ‘jeda’ untukku yang sejujurnya masih galau dengan langkah ke depan yang akan diambil. Karena jujur saja, pilihan setelah kuliah itu banyak, dan dalam melanjutkan pendidikan S2 pun ternyata butuh persiapan dan pemikiran yang matang juga, mulai dari niatnya apa untuk S2, terutama kenapa harus keluar negeri, lalu beasiswa apa saja yang ingin dicoba dan negara mana saja yang akan dituju. Berbagai pemikiran inilah yang ternyata membutuhkan waktu setahun dengan jeda yang aku jalani kini. Karena, jeda sesungguhnya sebagai sebuah jembatan dan titik henti dimana kita akan menyadari kenyataan yang ada, yang ada di sekitar kita, yang jika dipikir pastinya harus lebih bermakna dibanding dengan menjadi seorang mahasiswa dulu. Sebuah ‘jeda’ untuk mengabdi kepada orang-orang yang mungkin sebelumnya kita acuhkan, lingkungan yang sebelumnya kita abaikan dan rencana yang mungkin kita lupakan saat menjadi mahasiswa.

Jadi, alhamdulillah, dengan teaching for experience ini membuatku yang tidak hanya menambah pengalaman, namun juga sebagai jeda yang membuatku memikirkan dan mempertimbangkan langkah ke depan dengan lebih baik lagi. Walaupun telah menikah, dan menunda apply beasiswa tahun lalu, namun yang kurasakan bukanlah sebuah kesia-siaan, namun justru lebih menyadarkan diriku untuk lebih peka terhadap lingkungan, realita yang terjadi saat ini dan pastinya keluarga yang sebelumnya telah lama ditinggalkan dengan berbakti kepada mereka, yang akhirnya membuatku mengerti alasan mengapa harus kembali dan nantinya harus pergi lagi.

So, pastinya mengajar ini merupakan sebuah jeda yang sedang kami jalani, Master Dream Plan akan tetap menjadi langkah kami selanjutnya yang nantinya akan aku ceritakan bagaimana ikhtiar kami dalam mewujudkan impian ini. Iya impian yang mungkin dulu hanya menjadi impianku, namun kini menjadi impian kami yang semoga merupakan yang terbaik untuk kami.

Alhamdulillah ‘ala kulli hal, everything that’s meant to be it will be~

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: