Melihat Ramadan dari Maryland

Melihat Ramadan dari Maryland

Bagaimana seharusnya melihat Ramadan? Tentunya dengan sukacita ketika bertemu dengan bulan penuh ‘bonus’ ini. Namun, bagaimana kah seharusnya melihat rasa sukacita ini? Dengan banyak beribadah untuk mendapatkan bonus pahala tersebut, atau justru sukacita dengan euforia Ramadan yang banyak memberikan bonus berupa pemakluman diri?

Dari pandangan seorang anak kecil, Ramadan tentunya memiliki makna tersendiri. Terutama ketika Ramadan tersebut dilalui di negeri yang terkadang tak menyadari bahwa Ramadan itu ada. Sebuah negeri adidaya yang bernama, Amerika Serikat.

Melihat pengumuman lomba blog dari IMSA ini membawaku ke memori masa lalu ketika berada di Maryland, 19 tahun lalu. Sebuah negara bagian di Amerika Serikat yang menjadi salah satu negara yang memberikan kenangan tersendiri dalam hidupku. Menetap disana selama hampir 3 tahun dari TK hingga kelas 2 SD membuatku harus merasakan suasana Ramadan pertamaku di negara yang tidak menanti Ramadan dengan sukacita. Namun, bukan berarti hal tersebut dibiarkan begitu saja, ada peran orang tuaku yang membuat Ramadan menjadi akrab walaupun di sini.

Sejujurnya, memoriku ketika disana masih samar, namun berbekal beberapa foto yang tersisa dan cerita dari orang tua, bismillah, aku coba menulis sebuah catatan kecil mengenai pengalamanku Ramadan di sini, tepatnya saat Ramadan 1422 Hijriah.

Ramadan bermula ketika Umi membangunkan kami untuk sahur. Saat itu kami tinggal di sebuah apartemen di daerah Hewitt Avenue, Silver Spring. Nuansa Ramadan mulai terasa di rumah, namun ketika memasuki sekolah, Ramadan tidak terlihat karena aktifitas sekolah berjalan seperti biasa. Biasanya, setelah masuk kelas, kami akan menaruh kotak makan di tempat yang tersedia. Nantinya, kotak makan tersebut dibagikan ketika waktu istirahat makan siang. Karena hari ini mulai puasa, maka kami tidak menaruh kotak makan kami. Oh ya, waktu itu aku duduk di kelas 1 dan adikku di TK.

Semuanya berjalan normal sampai akhirnya tibalah waktu istirahat…

Tak disangka, ketika waktu istirahat makan siang, wali kelas menghampiriku dan mengajakku ke suatu tempat. Kalau tak salah ingat, nama wali kelasku Miss Daughtery. Aku ingat namanya karena pernah menulis surat untuknya di buku harian. Hehe. Ternyata ia mengajakku ke ruang komputer dan memintaku untuk menunggu waktu istirahat selesai di sini. Awalnya aku tak mengerti dan menganggap ini sebagai salah satu tugas. Setelah aku tanya, ternyata Umi yang menjelaskan padanya bahwa mulai hari ini sampai sebulan ke depannya aku berpuasa.

Miss, starting today until a month later, Izzati is fasting. Please bring her to the computer lab or library until break time finish.”

Begitu ucap Umi, ketika aku tanyakan padanya apa yang ia katakan pada wali kelasku. Hehe. Alhamdulillah, suasana Ramadan mulai terasa di sekolah walaupun hanya aku yang merasakannya. Adikku sendiri saat hari pertamanya puasa diisi dengan air mata karena sedih melihat teman-temannya makan. Alhamdulillah, gurunya cepat tanggap dan mengajaknya ke perpustakaan hingga waktu istirahat usai.

Walaupun sekolah tidak ada ‘bonus’ pulang lebih awal, namun aku senang karena setelah 5 hari sekolah aku akan bertemu dengan teman-teman sesama Muslim saat Sunday School. Sunday School sendiri merupakan sebuah program dari IMAAM (Indonesian Muslim Association in America), dimana anak-anak Indonesia dapat belajar membaca Al-Quran. Alasan kenapa kami bisa di sini, karena Abi diberi amanah untuk menjadi konsultan Islam di IMAAM, sebuah organisasi Muslim Indonesia selain IMSA.

Sunday School IMAM
Sunday School IMAAM

Saat Sunday School inilah aku bisa men-charge imanku. Mulai dari belajar membaca Al-Quran, pengetahuan agama Islam dan yang terpenting bertemu dengan teman-teman yang sama denganku memakai jilbab. Ah jadi ingat, ketika pertama kali masuk sekolah. Anak baru, Asia, dan memakai jilbab cukup membuatku menjadi pusat perhatian. Selain karena aku belum fasih berbahasa Inggris, jilbab yang aku kenakan dengan setelan kaos dan celana panjang membuat teman-temanku mengira aku memiliki penyakit.

What is this? Why do you use it? Are you sick? Are you bald?”

Beberapa pertanyaan yang ditanyakan padaku saat itu pun akhirnya dijawab sama Umi saat mengantarku di hari pertama sekolah. Saat itu islamophobia belum terasa, kejadian WTC pun belum terjadi, maka saat aku datang semua begitu asing di mata mereka. Alhamdulillah dengan penjelasan yang baik oleh Umi, mereka pun dapat menerimaku dengan baik.

Berlanjut dari suasana sekolah, maka Ramadan pun mulai terasa ketika kami berada di Kedutaan Indonesia yang bertempat di Washington D.C. Saat itu sedang ada peringatan Nuzulul Quran disana. Maka Abi yang menjadi penceramah saat acara tersebut membuat kami semua harus bertolak kesana. Selain IMAAM, Kedutaan Indonesia yang biasa kami menyebutnya dengan Embassy merupakan tempat yang sering kami kunjungi.

Pada momen peringatan Nuzulul Quran ini, pihak kedutaan pun mengadakan lomba membaca Al-Quran. Aku yang saat itu masih berumur 6 tahun pun ikut lomba tersebut. Alhamdulillah, saat 5 tahun aku sudah bisa membaca Al-Quran karena Umi mengajariku dengan ITQAN, sebuah metode dalam membaca Al Quran yang dibuat oleh Abi sendiri. Maka ketika mengikuti lomba tersebut, aku merupakan peserta termuda dan mendapatkan juara kedua. Hehe.

Selain peringatan Nuzulul Quran, kegiatan sholat Idul Fitri pun dilaksanakan di sini juga. Aku ingat, menjelang hari raya, Umi begitu sibuk mencari teman yang akan pulang kembali ke Amerika setelah dari Indonesia. Saat itu belum ada whatsapp ataupun aplikasi video call lainnya, maka Umi menggunakan telpon genggam dengan nomor khusus untuk menelpon ke Indonesia. Mungkin seperti kartu yang khusus untuk paket roaming kali ya. Hehe. Umi menggunakan nomor tersebut khusus untuk menelpon Embah yang ada di Jakarta. Alasan kenapa Umi mencari orang yang akan kembali kesini adalah agar Embah dapat menitipkan baju lebaran dan berbagai hal lainnya untuk kami saat hari raya.

Iya, waktu itu belum banyak toko yang menjual pakaian muslim ataupun makanan halal. Maka Umi pun meminta tolong kepada Embah untuk mengirimkan paket ke orang yang akan pulang ke Amerika dari Indonesia. Aku ingat, baju lebaran yang Embah belikan dan permen sugus yang menjadi pengobat rindu kami akan Indonesia. Hehe.

Mengingat kembali memori Ramadan di Maryland membuatku sadar bahwa melihat Ramadan ketika masih belia adalah sebuah kebahagiaan tersendiri. Walaupun saat itu belum mengerti dengan makna puasa itu sendiri, namun karena suasana yang dibuat oleh orang tuaku membuatku melihat Ramadan sebagai sebuah bulan yang spesial. Meski tidak ada iklan sirup di televisi atau berbagai ta’jil yang dijual menjelang berbuka, alhamdulillah dengan begitu kami dapat fokus beribadah. Mulai dari Abi yang mengajak kami untuk sholat tarawih berjamaah di rumah dan Umi yang memberikan tugas menghafal untuk kami.

Jadi teringat ketika dulu Abi malam-malam suka membawa kami keluar kota, entah itu Boston, atau New York, yang aku tau saat itu aku bilang ke Abi bahwa kita seperti Bani Israil yang berpergian saat malam. Hehe. Waktu itu walaupun dengan jarak yang cukup jauh, Abi menghampiri daerah tersebut dengan membawa serta kami semua untuk berdakwah melalui pengajian rutin. Bayangkan berapa lama perjalanan dari Maryland ke daerah tersebut? Maka seharusnya aku bersyukur saat sudah di Indonesia dengan berbagai kemudahan yang ada, lebih semangat lagi dalam menghidupkan Ramadan.

Inilah Ramadan yang terkadang tidak perlu dirayakan dengan pemakluman diri, karena tidur juga berpahala ataupun dengan meriahnya hidangan berbuka. Sejatinya Ramadan bukanlah menahan lapar karena puasa, namun membuat ia hidup dan terlihat dari perbedaan sikap yang lebih bertaqwa. Maryland mengajarkanku bahwa suasana Ramadan itu harus dicari bukan memintanya untuk hadir sendiri.

Melihat Ramadan dari Maryland ketika masih belia membuatku sadar bahwa betapa berharganya momen tersebut. Menjalani puasa di saat orang lain tidak tahu hal tersebut, melaksanakan sholat yang berkiblat pada waktu ketika tidak ada adzan yang terdengar dan merayakan hari raya bersama mereka yang sama-sama berjuang di sini. Ramadan memang tidak terlihat di Maryland, namun ia ada dalam hati yang merasakannya dan lingkungan yang diciptakan bersama saudaranya.

Terima kasih IMSA telah membuat lomba blog ini. Secara tidak langsung membuatku mengingat kembali masa-masa ketika tinggal disana, meskipun masih kecil. Tak kusangka juga, IMSA ternyata telah menjadi bagian memori tersebut. Ketika aku tanya orang tuaku tentang IMSA pun mereka menceritakan bagaimana mereka mengikuti Muktamar yang diadakan setiap tahun. Sayangnya saat itu aku belum menyadarinya. Hehe. Semoga di Muktamar tahun ini aku bisa ikut berpartisipasi melalui catatan kecil ini. Hehe. Semoga juga suatu hari nanti nuansa Ramadan di Maryland bisa dirasakan lagi dan mengulang kembali memori bersama IMSA yang mungkin sempat terlupakan.

May Allah Permit~

Jebus, 14 Juni 2019

2 thoughts on “Melihat Ramadan dari Maryland

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: