Memulai Peradaban dari Izzatul Quran Bangka Barat

Memulai Peradaban dari Izzatul Quran Bangka Barat

“Suatu saat nanti, di sini akan ada peradaban yang dibangun. Peradaban yang memuliakan Al-Quran, memanfaatkan yang ada di alam dan mensyukuri segala ciptaanNya dari keindahan tempat ini.” begitu ucapnya yang menjadi awal dari ‘Izzatul Quran hadir di Teluk Limau.

Kembali ke tahun 2011 saat Abi menemukan keindahan ciptaan Allah akan sebuah batu yang menyerupai seseorang yang sedang duduk tasyahud akhir. Dari ketakjubannya inilah, ia memberikan nama pantai di Teluk Limau ini sebagai Pantai Batu Bersimpuh. Niat awal Pantai Babé sebagai tempat peristirahatan dan wisata berubah menjadi sebuah tempat untuk bertadabbur, bertafakkur dan bersyukur kepada segala ciptaanNya dengan membangun pondok tahfizh ‘Izzatul Quran. Meskipun dengan bangunan dan kondisi seadanya, ia yakin perlahan akan terbangun peradaban dari sini.

Baca Juga: Mengenal Wisata Pulau Bangka

Bismillah, berbekal tekad dan niat tersebut, di penghujung tahun 2017 dengan dukungan dari keluarga, mulai disiapkanlah segala hal untuk mewujudukan ‘Izzatul Quran. Mulai dari logo yayasan, urusan administrasi hingga publikasi, semuanya family made. Alhamdulillah, dengan izin Allah, tepat pada tanggal 15 Desember 2017 ‘Izzatul Quran siap menyambut para santri yang berminat menghafalkan Al-Quran dengan nuansa alam yang kami tawarkan.

Merintis memang tidak akan mudah. Namun, jika sudah memulai, tidak ada kata untuk berhenti.

Target kami sebenarnya adalah untuk mengundang para yatim, dhuafa ataupun pemuda yang telah lulus sekolah di Bangka untuk mengisi waktunya setelah lulus tersebut dengan menghafalkan Al-Quran, sebagai sebuah alternatif. Tak di sangka, santri pertama kami justru datang dari sebrang pulau! MasyaAllah, setelah poster pendaftaran kami sebar, hadirlah 2 orang santri yang menjadi pembuka pesantren Tahfizh ini.

Meskipun hanya 2 orang santri yang diajarkan, namun dari sinilah peradaban bermula. Hijrahnya mereka dari tempat tinggal masing-masing menuju ke sebuah tempat terpencil di ujung teluk Pulau Bangka merupakan awal perjuangan mereka kemari. Pepohonan yang mengitari, undakan tanah yang belum rata dan pantai yang menghampar di bawah menjadi saksi akan ikhtiar mereka dalam menghafalkan Al-Quran.

Program Tahfizh yang dilakukan di sini diawali dengan pengajaran Tahsin terlebih dahulu. Dengan seorang Ustadz dari Pondok Tahfizh Quran Asy-Syifa Subang, para santri diajarkan ilmu dasar membaca Al-Quran. Tujuannya, selain untuk mengetahui bagaimana caranya membaca Al-Quran dengan tajwid, adalah untuk menyamakan frekuensi bacaan sehingga dapat lebih mudah diaplikasikan.

Alhamdulillah, selama hampir 1 tahun, kedua santri tersebut sudah dapat menghafal juz 30 dan 29 setelah mempelajari tahsin selama 3 bulan lamanya. Cukup lama bertahan dengan 2 orang santri saja, maka kami pun membuka pendaftaran lagi untuk para pemuda yang ingin bergabung dengan kami di sini. Mulailah kami menyebarkan informasi pendaftaran melalui media sosial untuk kedua kalinya.

Nonton: Video Profil ‘Izzatul Quran

MasyaAllah, mulai bertambahlah jumlah santri yang ingin belajar di sini. Tak disangka, santri yang hadir merupakan pemuda Bangka yang berdomisili di Sungailiat, 3 jam perjalanan jaraknya dari Teluk Limau. Alhamdulillah, harapan kami untuk membangun peradaban di Teluk Limau kepada para pemuda di Bangka mulai terwujud…

Masyarakat di sekitar Teluk Limau pun mulai mengetahui keberadaan pesantren ini, ada beberapa tokoh masyarakat yang meminta bantuan untuk diajarkan tahsin, sehingga setiap malam Sabtu para Bapak akan datang ke pesantren untuk belajar Al-Quran. Begitupula masyarakat yang ingin berwisata ke Pantai Teluk LImau pun pada akhirnya harus menghormati peraturan yang ada di pesantren sehingga tidak ada lagi kemudhorotan yang dilakukan di sana (seperti minum-minum, pacaran dan hal lainnya). Lingkungan di sekitar pesantren pun mulai dibentuk dengan konsep yang Islami sehingga siapapun yang kemari merasakan suasana yang nyaman dengan Al-Quran dan alam.

Dimulai dengan 2 santri, lalu bertambah menjadi 5, lalu berkurang pula 2 santri awal yang keluar dan jumlah santri terbanyak yang kami miliki saat itu ada 13 orang.

Dengan 13 orang santri tersebut, maka urusan memasak, kebersihan dan kebun yang ada di ‘Izzatul Quran semuanya dilakukan oleh santri sendiri. Hal ini dilakukan untuk menumbukan kepribadian yang mandiri kepada para santri dan tidak membuat aktifitas menjadi hambatan dalam menghafalkan Al-Quran.

“Sudah biasa orang yang menghafalkan Al-Quran dengan fokus pada aktifitas menghafal saja, namun di sini Abi ingin agar santri menghafal sambil beraktifitas. Agar nantinya ketika mereka kembali lagi kepada lingkungan mereka masing-masing Al-Quran tidak akan ditinggalkan meskipun mereka sedang beraktifitas.”

izzatul quran bangka barat

Maka tidak heran, para santri ikut serta dalam menanam tanaman, memetik hasil kebun, memasak makanan dan berbagai hal lainnya yang memang merupakan salah satu kegiatan yang dilakukan setiap harinya di sela aktifitas mereka menghafalkan Al-Quran.

Sayangnya, hal tersebut tidak berlangsung lama. Setelah liburan, santri yang tersisa hanyalah 5 orang…

Alasan yang disampaikan atas mundurnya mereka, rata-rata adalah karena harus kembali mencari penghasilan, membantu orangtua dan alasan lainnya yang memang tidak dapat kami penuhi.

Syarat belajar Al-Quran di sini hanyalah mengirimkan berbagai berkas dan memiliki motivasi untuk menghafalkan Al-Quran. Untuk masalah pembiayaan, semuanya gratis selama pembelajaran. Kebutuhan makanan, tempat tinggal dan berbagai operasional lainnya, semuanya ditanggung oleh dana pribadi keluarga kami. Ketika santri memilih untuk keluar pun, tidak ada denda kecuali untuk alasan yang tidak bisa diterima. Karena dari dana pribadi inilah kami hanya mampu membiayai kebutuhan harian saja, untuk pemberian uang saku dan tambahan lainnya belum dapat kami penuhi, sehingga ketika alasan mundurnya para santri saat itu menjadi sebuah kabar sedih bagi kami.

“Kami masih ingin belajar, namun kondisi orangtua yang butuh dibantu penghasilannya membuat kami harus kembali.”

Mengapa tidak meminta bantuan investor? Terkadang, bantuan yang diberikan membutuhkan komitmen dan perubahan nilai yang tidak sejalan. Maka dari itu, Abi sempat berencana untuk memberhentikan sementara pesantren karena tidak mampu membiayai saat itu. Namun, di sini Umi meyakinkan bahwa insyaAllah rezeki untuk santri pasti ada.

Alhamdulillah, meskipun kini tersisa 5 orang santri saja, 5 santri inilah yang pada akhirnya menunjukkan sebuah peradaban di sini. Mulai dari sholat tahajud yang dilakukan tanpa paksaan, puasa sunnah Senin-Kamis secara rutin dan interaksi bersama Al-Quran yang intens dengan tilawah dan murojaahnya. Plus mereka semua adalah pemuda Bangka yang berkomitmen menyelesaikan hafalannya di sini! Barakallah lakum.

Adab seperti inilah yang diharapkan oleh Abi agar dapat menjadi sebuah kebiasaan yang nantinya akan tetap terbawa ketika mereka selesai dari sini.

Dari 5 santri ini pula, pada akhirnya kami harus turun secara langsung dalam proses pembelajarannya, karena saat itu pula Ustadz yang telah mengajar selama 2 tahun ini akhirnya memilih untuk meninggalkan kami juga. MasyaAllah, dengan terjun langsung dalam proses pembelajaran, kami dapat melihat langsung bagaimana peradaban ini dibangun. Dari suami yang menjadi guru mereka, aku yang menjadi juru masak mereka, Abi yang kini bisa melihat proses mereka secara langsung setelah sebelumnya ia hanya bisa mendengar kabarnya dari kami, dan terakhir, Umi yang selalu yakin akan bantuan Allah kepada para santri.

Jadi jangan anggap kami sudah sukses menjalani pesantren ini, karena ini masih dalam proses merintis. Tidak ada mudir ataupun donatur di sini, yang ada hanyalah sebuah keluarga yang mengharapkan peradaban Qurani hadir di sini.

Para santri dan ‘Izzatul Quran inilah ladang amal jariyah bagi kami. Maka bagaimanapun sulitnya dalam merintis ‘Izzatul Quran, selama masih meniatkan hal ini untuk ibadah dan beramal jariyah, insyaAllah Allah akan membalasnya dengan pahala yang berlimpah…

Usai sudah kisah perjalanan dari berdirinya Izzatul Quran. Semoga dapat menjadi hikmah bagi kita semua dalam beramal jariyah.

May Allah Permit~

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: