Tes IELTS tanpa Kursus 101 – Menghadapi Tes 

Tes IELTS tanpa Kursus 101 – Menghadapi Tes 

Ketika persiapan sudah dirasa cukup, maka tes IELTS pun harus dihadapi.

Sejak awal daftar untuk tes IELTS, aku saranin untuk cari lokasi yang terjangkau dan waktu yang sesuai. Jika butuh banget untuk tes IELTS, maka carilah tempat yang mengujikan tes IELTS dalam satu hari. Karena rata-rata tes IELTS untuk speaking test nya dilakukan berbeda hari, yang kemungkinan besar bisa berjangka waktu 1 minggu.

Untuk waktu pendaftaran IELTS paling lambat 1 bulan sebelumnya karena jadwal tes IELTS cukup padat dan jika ingin mendapatkan tempat tes dan waktu yang pas, kalo bisa sudah daftar dari jauh-jauh hari. Karena aku jatuhnya dadakan dan mau segera dapat hasil tes IELTS, makanya langsung nyari jadwal 1 bulan sebelumnya yg alhamdulillah nya dapet dan langsung melakukan persiapan. Aku saranin juga bagi yang ga kursus IELTS, kalo daftarnya satu bulan sebelum tes, maka selama 1 bulan itulah harus gila-gilaan belajar IELTS untuk mendapatkan hasik yang terbaik.

Jadwal sudah didapatkan, maka langkah selanjutnya adalah persiapan dan melakukan tes.

Sesampainya di lokasi, aku diminta untuk menunggu briefing karena ada beberapa hal yang perlu disampaikan secara umum kepada para peserta tes IELTS sebelum memasuki ruangan.

Setelah briefing sebentar, kitapun dipersilahkan untuk memasuki ruangan tes. Untuk ruangan tes di IALF Kuningan cukup luas dan nyaman, dalam satu ruangan terdapat 30 kursi yang disusun sedemikian rupa sehingga kitapun masuk sesuai dengan urutan nama yang dipanggil.

Aku sendiri mendapatkan kursi paling belakang yang alhamdulillah nya ga kena udara AC secara langsung. Kitapun diberi waktu untuk mengisi data diri yang sebelumnya dicontohkan oleh pengawas. Hati-hati karena lembar jawaban untuk listening dan reading sama, hanya berbeda sisi. Waktu itu warna sisinya dibedakan menjadi warna biru dan hitam. Biru untuk listening dan hitam untuk reading.

Untuk bagian listening, kita dikasih waktu 40 menit untuk mengerjakan soal. 30 menit untuk soal dan memilih jawaban, 10 menit sisanya untuk memindahkan jawaban yang sebelumnya udah kita isi di buku soal ke lembar jawaban.

Tips utama dari aku untuk bagian listening:

Baca soal nya dulu dan perhatikan keyword di soal dengan teks listening yang diberikan

Karena kadang kita fokus sama semua teks nya yang diucapkan sampe-sampe terlena dengan jawaban yang sebenarnya. Kalo misalnya udah paham sama alur pembicaraannya, boleh nebak jawabannya jika memang ga inget atau ga denger jelas teks yang diucapkan.

Usahain banget untuk diisi semua soal listening nya, karena satu nilai sangat berarti.

Oh ya, usahain juga untuk memperhatikan spelling dengan benar, IELTS sangat memperhatikan spelling sehingga kalo jawabannya benar tapi spelling nya salah ya tetep aja nilai nya 0.

Lanjut listening yang sempat bikin kaget tapi alhamdulillah nya bisa dikerjain. Masuklah kita ke bagian reading, karena saat listening dikasih waktu 10 menit buat mindahin jawaban dari buku soal ke lembar jawaban, maka cek lagi jawabannya sampe kamu bener-bener yakin, sekalian persiapan mental lagi untuk soal reading.

Jarak antara tes listening sama reading cuma sekitar 5-10 menit, pokoknya sebentar saja jika ingin izin ke kamar mandi. Boleh juga izin saat tes tapi konsekuensi nya kamu ga dikasih waktu tambahan buat ngejawab soal.

Nah, untuk tes reading tuh tricky banget, kalo sedikit ga teliti, udah tuh salah. Kenapa aku bilang tricky? Karena kadang teks dalam soalnya itu mengandung makna yg tersirat sehingga bener-bener harus dipahami. Begitu juga soalnya, kadang kita nemu nih di soal yg ternyata di teks sama persis tulisannya yang jadinya kita kira itu jawabannya, padahal maksudnya nanya yang lainnya. Jadinya harus teliti banget saat mengerjakan soal reading, dibutuhkan kemampuan scanning dan skimming yang nantinya bisa dipelajari seiring latihan soal.

Untuk soal reading sendiri diberikan waktu 60 menit untuk mengerjakannya tanpa ada waktu tambahan untuk memindahkan jawaban. Jadi aku saranin untuk mengatur waktu mengerjakan soal reading sebaik mumgkin, karena tingkat kesulitan bertambah dalam setiap section. Gunakan timer setiap mengerjakan soal reading agar tahu berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan setiap section.

Lalu, setelah melewati bagian soal reading, kita diberi waktu break sebentar sebelum mengerjakan soal writing. Untuk soal writing sendiri sebenarnya untung-untungan karena tipe soal yang diberikan beragam untuk 2 section. Ingat yah, section 2 lebih besar nilainya dibanding section 1, dengan jumlah huruf yang berbeda. Section 1 min. 150 kata, dan section 2 min. 250 kata.

Untuk topiknya, tergantung kitanya lagi nih, familiar apa ga dengan soal yang dikasih. Waktu itu, aku dapet soal yang bagian pertama disuruh jelasin tabel yang isinya perbandingan jumlah pengunjung dalam waktu 3 tahun di beberapa tempat wisata di Australia. Bagi yang udah biasa latihan writing, mungkin topik ini cukup mudah dikerjakan, aku juga waktu dapet topik ini lumayan bisa ngerjain, dengan membuat outline dulu karena harus dianalisa, tapi sayangnya karena kurang teliti dengan perbedaan jumlah pengunjung yang beda-beda tipis, jadilah ada satu poin yang ketinggalan. 🙁 Yowislah, karena waktu juga udah mepet, aku fokusin ke writing section yang bagian keduanya.

Writing section bagian kedua ini lebih fokus ke opini kita, cukup berbeda dengan section 1 yang meminta kita untuk menganalisa. Aku saranin untuk writing section ini, banyak-banyaklah nyari contoh tulisan dan topik di Internet, terutama di IELTSLiz karena di situs ini udah lengkap banget contoh soal dan materi untuk persiapan tes IELTS. Lanjut ke section kedua, aku dapet soal yang diminta untuk menjelaskan opini aku mengenai kepemimpinan, apakah jiwa kepemimpinan itu alamiah atau dibentuk. Dari opini tersebut terus diminta untuk memberikan contoh nyata dari kedua bentuk kepemimpinan tersebut.

Alhamdulillah, dengan manajemen waktu yang baik, 60 menit pun dilalui, 20 menit untuk section 1 dan 30 menit untuk section 2, setelah sebelumnya 10 menit di awal aku luangin waktu untuk buat outline dari tulisan yang aku mau buat. Di writing section ini, perencanaan akan apa yang mau kita tulis tuh penting banget, biar apa yang ditulis stay on topic dan ga ngalor ngidul untuk nambahin jumlah kata. So, rencanakan dengan baik dan efisien yah!

Listening sudah, Reading sudah, Writing sudah. Mulailah kita masuk ke sesi terakhir dari tes IELTS ini yaitu Speaking. Well, tahap terakhir yang cukup menegangkan bagiku karena takut tiba-tiba grogi pas mau jawab pertanyaan dari examinernya, apalagi kalo liat video speaking test di Youtube tuh examiner nya jutek-jutek banget. Haha. Tapi bismillah lah, hadapin aja dulu. Karena emang sengaja mau nyari tempat tes IELTS yang rangkaian tes nya dalam sehari, maka persiapan untuk tes speaking pun singkat.

Setelah tes writing, akupun dan peserta tes IELTS lainnya diminta untuk menunggu di ruangan sampai gilirannya dipanggil. Di IALF Jakarta sendiri ada 3 ruangan yang dipakai untuk tes speaking. Jumlah peserta IELTS pun ada 30 dengan masing-masing tes speaking dapat menghabiskan waktu 3-5 menit.

Ketika menunggu di ruangan dan mulai untuk menyantap sarapan pagi yang sempat tertunda, walaupun hanya susu dan sepotong roti, baru aja mau gigitan pertama, eh dipanggil buat tes speaking. Yaudahlah, aku siapkan diri untuk menuju ruangan examiner. Alhamdulillah ternyata examinernya cewek, tapi ternyata tempo bicaranya lumayan cepet dengan gerakan kepala yang sering mengangguk sehingga setiap kali bertanya aku jadi kedistract karena gerakannya. Tapi alhamdulillah, satu persatu pertanyaan aku jawab dengan baik walaupun ada beberapa vocab yang sempet kelupaan. Gak begitu lama untuk tes speaking karena pas examiner nya bilang, “okay your speaking test is done”, aku yang denger itu jadi shock dan ga menyangka bahwa aku bisa melewati berbagai pertanyaan dengan cukup baik. :’)

Rasanya lega banget pas keluar dari ruangan karena akhirnya rangkaian tes IELTS pun bisa dilalui. Waktu pun sudah menunjukkan pukul 13.00, akupun melangkahkan kaki keluar dari Plaza Kuningan dan berharap yang terbaik untuk hasil tes IELTS ku :’). Info tambahan, kalo misalnya kamu berdomisili di Jabodetabek, maka hasil IELTS mu harus diambil langsung, ataupun diwakili namun harus dengan surat kuasa di tempat tes, tapi kalo kamu tinggalnya diluar Jabodetabek, maka hasil IELTS kamu bakal dikirim sama tempat tesnya. Karena waktu itu aku harus pulang lagi ke Bangka, maka aku minta hasil tes akunya dikirim ke Bangka yang alhamdulillah sampai dengan cepat. :’D

So, inilah kisah perjalananku dalam melalui tes IELTS, baik dari segi persiapan sampai hari tes. Maaf banget kalo baru ngepost lagi lanjutan dari Tes IELTS 101 ini karena berbagai hal, semoga post ini dapat memberi manfaat dan menjadikan kamu lebih semangat lagi dalam mengambil tes IELTS, karena segala hal bermula dari keberanian diri dalam mengambil sebuah pilihan, untuk hasil? Everything that’s meant to be, it will be~ 

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: