The Untold Story of Palestine

The Untold Story of Palestine

“Janganlah berusaha keras mengadakan perjalanan kecuali pada tiga masjid, Masjidil Haram, Masjid Rasul SAW (Nabawi) dan Masjidil Aqsa.” (Shahih Bukhari)

Berbekal dari hadits itu lah, alhamdulillah aku bisa mengunjungi ketiga masjid tersebut pada tahun 2011 dengan izinNya melalui perantara Abi ku akan nazarnya.

Mungkin sebagian besar orang akan memilih untuk berwisata ke berbagai negara yang memang sudah terkenal akan keindahan yang dimilikinya, namun bagaimana jika kamu justru diperintahkan untuk mengunjungi suatu tempat? Maka dari itu, tujuanku mengunjungi Palestina setelah umroh adalah untuk mencari hikmah diperintahkannya hal tersebut…

Perjalanan bersama keluargaku ke Palestina merupakan salah satu destinasi yang ditawarkan oleh Travel Umroh kami yaitu Maghfirah Travel. Perjalanan yang ditawarkan selama 10 hari adalah ke Makkah, Madinah, dan Palestina melalui Yordania. Maka, dalam 10 hari ini alhamdulillah aku telah melakukan perjalanan yang diperintahkan oleh Rasulullah.

Setelah umroh, kamipun bertolak ke Yordania agar dapat diizinkan masuk ke Palestina, karena untuk memasuki Palestina hanya ada 2 jalur, yaitu melalui Mesir melewati Tepi Gaza atau Yordania. Karena ketika itu kondisi Gaza cukup berkecamuk, jadi diputuskanlah untuk melalui Yordania. Saat memasuki perbatasannya pun, kondisi Israel dan Palestina sungguh berbeda. Kami menaiki bus untuk masuk ke bagian imigrasi Israel yang dijaga ketat oleh petugas. Satu petugas pun masuk ke dalam bus kami untuk melihat kondisi dan mengecek apakah kami membawa barang yang dilarang. Sekedar untuk mengambil foto atau memegang hp pun tidak diperbolehkan sehingga kami hanya dapat berdiam diri sambil diperiksa satu per satu tempat duduk kami.

Memasuki bagian imigrasi, paspor kamipun diperiksa satu persatu. Karena Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel, maka visa untuk memasuki Israel pun ditempelkan di sampul paspor. Setelah melalui bagian imigrasi, terlihatlah bagian Palestina yang dikuasai Israel dan bagian Palestina sendiri yang dibatasi oleh tembok tinggi. Sangat berbeda kondisinya 🙁

Lalu, bus kamipun melaju ke tempat dimana kami bisa melihat seluruh wilayah Kota Tua Yerusalem yaitu Bukit Zaitun. Disini kami dibimbing oleh tour guide asing yang ternyata bisa bahasa Indonesia dengan fasih. Di tempat ini, ia ceritakan bahwa di tanah Yerusalem ini merupakan kota suci bagi 4 ummat beragama, yaitu Islam, Yahudi, Kristen dan Armenia. Maka dibagilah perbagiannya sesuai dengan situs agama masing-masing. Lalu iapun menceritakan sejarah lainnya mengenai bagaimana bukit Zaitun ini menjadi tempat yang sakral bagi ummat beragama ini, sehingga senantiasa dijaga. Di depan bukit Zaitun sendiri terdapat makam yang merupakan pemakaman yang mahal jika ingin dikubur disana. Hal itu karena umat Yahudi percaya bahwa nanti saat kiamat sang juru selamat akan bangkit dari sana sehingga mereka berlomba-lomba untuk dapat dikubur disana.

IMG00095-20120103-1351

Beranjak dari Bukit Zaitun, sampailah kami ke komplek wilayah Masjidil Aqsha. Karena wilayah ini juga dijaga oleh tentara Israel, maka kamipun dibimbing oleh sang tour guide ke dalam setelah melewati sebuah pintu besi yang besar. Wilayah inipun khusus dimasuki oleh ummat Islam waktu itu, ummat Yahudi ataupun Israel dilarang memasuki kawasan ini. Karena jika hal tersebut terjadi maka ummat Islam yang ada disana pasti tidak akan tinggal diam. Saat memasuki wilayah tersebut, betapa merinding dan takjub nya aku melihat Dome of The Rock yang awalnya ku kira sebagai Masjidil Aqsha. Akupun kaget karena ternyata kondisinya waktu itu tidak seburuk dan separah dengan yang diberitakan media. Maka kami dan rombongan pun mulai berfoto dengan Masjid Berkubah Emas ini.

20120102_215048
Foto di depan Dome of the Rock

Melihat kejadian tersebut, sang tour guide pun mengatakan kepada rombongan travel kami,

“Pasti kalian berfikir bahwa inilah Masjidil Aqsha.”

Kamipun yang waktu itu masih terpengaruh dengan gambaran Masjidil Aqsha yang megah terkejut mendengar pernyataan tersebut. (bahkan di Wikipedia pun Masjidil Aqsha ya Masjid Kubah Emas ini)

“Ternyata memang selama ini sudah pada salah sangka tentang Masjidil Aqsha. Karena Masjidil Aqsha yang sesungguhnya adalah seluruh wilayah ini termasuk Masjid yang memiliki kubah hitam kecil tepat di sebelah Dome of the Rock ini. Bangunan yang selama ini kalian kira Al Aqsha adalah tempat untuk melindungi batu yang menjadi pijakan naiknya Rasulullah SAW ke Sidratul Muntaha dalam peristiwa Isra’ Mi’raj.”

20120102_223431
Foto di dalam Masjid Al Aqsha

Well, ketika aku mendengar hal tersebut, aku cukup terkejut karena selama ini gambaran tentang Al Aqsha adalah kubah emas yang sama megahnya seperti Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Ternyata Masjidil Aqsha jauh dari kesan kemewahan dari luarnya, tapi MasyaAllah, keindahan interior dalam Masjid dan suasananya membuatku mengerti bahwa memang Masjid ini memiliki keistimewaannya sendiri. Ternyata begitu banyak jamaah yang sholat di dalam masjid ini. Akupun melihat seorang Ibu yang ternyata sudah sekian lama berada di dalam Masjidil Aqsha ini untuk beribadah. Alhamdulillah, Allah memberikan izin dan kesempatan pada diri ini untuk dapat mengunjungi dan sholat di Masjid suci ini. :’)

Ketika berada di kawasan tersebut, tour guide kamipun mengajak ke Dome of the Rock dan memberikan penjelasan mengenai bangunan tersebut yang selama ini disalah artikan sebagai Masjidil Aqsha. Bangunan berbentuk heksagonal itu ternyata memiliki cerita tersendiri. Di dalam, kami diajak untuk turun kebawah untuk melihat gua yang berada di bawah Dome of the Rock. Nama Dome of the Rock sendiri ternyata bukan tanpa alasan, seperti yang dijelaskan oleh Tour Guide kami bahwa disinilah tempat disimpannya batu yang menjadi pijakan Rasulullah SAW saat Isra’ Mi’raj. Batu ini dilindungi oleh berbagai ornamen sehingga kami hanya bisa merabanya melalui sebuah lubang kecil.

Selepas dari kawasan Masjidil Aqsha, kamipun berjalan menyusuri jalan menuju Kota Tua Yerusalem. Disana ternyata ada beberapa sektor yang menunjukkan kawasan beragam situs agama yang ada. Sebelumnya, ketika kami keluar dari kawasan Masjidil Aqsha, aku melihat beberapa anak Palestina sedang berjalan membawa ember kosong seraya melewati tentara Israel yang sedang berpatroli. Sepertinya ember tersebut untuk mengambil jatah makanan mereka. Karena ada petugas yang berjaga jadi kami tidak bisa memberinya bantuan apapun. Bunyi sirine ambulans pun sering terdengar ketika kami berjalan.

Kembali lagi ke perjalanan kami menuju berbagai situs tempat ibadah yang ada. Hal yang aku lihat ketika masuk kawasan tersebut adalah banyaknya orang-orang yang berlalu lalang di suatu tempat. Ternyata tempat itu adalah Tembok Ratapan (Western Wall) kaum Yahudi yang ternyata secara tidak langsung bersinggungan dengan Masjidil Aqsha. Disanapun terdapat pintu akses langsung menuju kawasan Al Aqsha. Walaupun hari sudah menjelang malam, namun tidak berhenti orang-orang dari berbagai asal datang melewati scanner untuk masuk ke Tembok Ratapan. Suasananya seperti ummat Islam ketika melakukan umroh. Tempat beribadah di Tembok Ratapan pun dipisah antara laki-laki dan perempuan.

Setelah mengunjungi Tembok Ratapan, kamipun diajak menuju gereja St. Anne yang berada di Via Dolorosa di dekat Lion’s Gate dan merupakan tempat ibadah ummat Kristen yang dipercaya sebagai tempat masa kecilnya Bunda Maria.

Lalu, ketika kami memasuki kawasan tempat tinggalnya ummat Islam, terlihat kondisi yang menyedihkan dimana penerangan sangat minim sekali.

“Semenjak bergejolaknya perang di Gaza, masyarakat Muslim disini kekurangan sumber daya sehingga untuk penerangan dan makanan pun terbatas. Merekapun lebih memilih untuk diam di dalam rumah agar tidak terjadi gesekan saat bertemu dengan tentara Israel.”

Begitulah penjelasan dari Tour guide kami yang menjelaskan kontrasnya lingkungan ummat Islam di pusat Kota Tua Yerusalem.

Akupun berfikir bahwa bagaimana rasanya menjadi seseorang yang asing padahal di tanahnya sendiri?

Pasti sedih dan tentunya ingin keadaan yang damai.

Maka hal yang kusadari selama kunjunganku di Palestina ini adalah bahwa janji Allah mengenai keagungan Masjidil Aqsha benar adanya.

Mulai dari peristiwa Isra’ Mi’raj yang nyata.

Kesalahpahaman mengenai bangunan Masjidil Aqsha akhirnya dapat diluruskan disini.

Kenyataan bahwa ternyata apa yang selama ini diketahui dari media ternyata tidak semuanya benar dan sampai harus dikonfirmasikan langsung kesini untuk tau mana yang benar. (Jadi jangan sampai salah lagi ya)

Terakhir, dengan adanya gejolak di Gaza merupakan bukti bahwa ummat Islam di Palestina tidak akan pernah rela tanahnya dijajah oleh Zionis Israel. Walaupun Al Aqsha saat ini masih dalam keadaan relatif aman, namun tetap saja, itu karena kawasan Al Aqsha sudah dibawah kuasa Israel. Sedangkan Gaza merupakan satu-satunya wilayah milik Palestina yang tersisa. Maka dari itu perjuangan masyarakat di Tepi Gaza merupakan usaha untuk membebaskan Al Quds dari belenggu Israel.

Konflik di Gaza pun merupakan sebuah peringatan bahwa masih ada perang di dunia ini dan tetap harus menjadi prioritas dalam membantu masyarakat disana atas nama agama dan kemanusiaan. Dikarenakan kondisi ini juga lah para turis tidak diizinkan untuk kesana sehingga aku pun sebenarya tidak tahu bagaimana kondisi Gaza saat itu.

Jadi, memang tujuan dari setiap perjalanan adalah untuk mencari pelajaran yang ada pada setiap kunjungan yang ada.

Wallahu a’lam bisshawwab. Jika memang ada kekeliruan dalam tulisan ini, mohon dimaafkan. 🙏

Alhamdulillah, di tahun 2011 aku diizinkan untuk mengunjungi 3 masjid yang diperintahkan oleh agamaku untuk dikunjungi bersama keluargaku dan bisa membagikannya bersama kalian di www.cocreate.id.

Sayangnya, saat 2011 aku belum memakai Jenius sehingga #Jalan2Jenius pun belum bisa kurasakan. Maka dari itu, untuk perjalanan selanjutnya di tahun mendatang bersama keluarga kecilku insyaAllah bisa terwujud jika tercapai target dana yang aku dan suami buat dalam Dream Saver Jenius. Sebuah layanan yang diberikan oleh Jenius dalam upaya mewujudkan impian kita sesuai dengan target yang kita tentukan. Dengan adanya Dream Saver ini, otomatis akan tersisihkan uang yang ditargetkan untuk disimpan, yang nantinya jika sudah mencapai target dapat diambil untuk kita gunakan. InsyaAllah, dengan ini aku dan suami dapat mengumpulkan uang tanpa harus takut terpakai deh. 😀

So, kemana lagi Travel with Purpose kita nanti?

P.S: Setelah membaca tulisan ini, jangan lupa untuk like yah tulisanku disini
Jazakumullah Khoir <3

Tulis saja komentarmu, jangan hanya dipendam saja

%d bloggers like this: